Tanya Jawab Seputar Zikir Berjamaah

Pertanyaan:

Assalammuallaikum, Warahmatullahi Wabarakatuh. Puja dan Puji ke hadirat Allah Subhanahu wa ta’ala, serta shalawat dan salam tidak lupa kita haturkan kepada Baginda Nabi Besar Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.

Menjumpai Habib Munzir dan seluruh teman-teman pencinta Majelis Rasulullah, saya pribadi sangat berbahagia dengan telah berdirinya situs resmi ini, khususnya dengan forum ini, yang insyaAllah dapat menjadi tempat kita menggali informasi agama, khususnya masalah dzikir.

Beberapa waktu yang lalu, saya mendapat email dari forum yang saya buat yang isinya menyoal mengenai masalah dzikir berjamaah, setelah membaca dengan teliti, ternyata menurut saya isinya sangat tidak relevan dengan mayoritas pemahaman masyarakat Islam sunni dan Syafi’i di Indonesia, menurut saya tulisan-tulisan ini bersumber dari paham wahabi, apa benar?

Mohon bantuan Habib Munzir untuk membantu membuat sanggahan atas artikel di bawah ini, karena saya rasa perlu untuk meluruskan hal ini, terima kasih sebelumnya

Wassalam

Sumber yang dibicarakan:

Al-Ibda’ fi Kamalisysyar’i wa Khathar al- Ibtida’ (Ibn Utsaimin) edisi terjemah, Adz-Dzikr al-Jama’i Bainal Ittiba’ wal Ibtida’ (Dr. Muhammad bin Abdur Rahman al Khumayyis).

Contoh link yang memuat: http://ibnujafar86.wordpress.com/2011/04/30/fenomena-dzikir-berjamaah/ dan http://groups.yahoo.com/group/assunnah/message/19174

Kitab Majmu’ah Fatawa Al-Madina Al-Munawarrah, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa AlBani.Fatwa-Fatwa AlBani, hal 39-41, Pustaka At- Tauhid]

Contoh link yang memuat : http://almanhaj.or.id/content/1501/slash/0 dan http://abufathurrahman-fairuz.blogspot.com/2007/10/hukum-berdzikir-dengan-suara-keras.html

Jawab:

Alaikum salam warahmatullahi wa barakaatuh, Terimakasih atas perhatian dan partisipasi anda pada www.majelisrasulullah.org

Menanggapi surat anda, memang perlu sedikit penjelasan tentang sekte yg baru ini (faham wahabi), butuh kejelian atas tipuan tipuan sekte ini (maaf saya tidak menamakan mereka ini madzhab). Sekte wahabi muncul pada abad 14 hijriah, mereka ini merupakan penyakit dalam tubuh muslimin yang telah menyerang hampir seluruh Negara muslimin dimuka bumi.

Mereka ini selalu mengada-adakan dan mempermasalahkan hal hal yang tidak pernah dipermasalahkan oleh Ulama Besar, Para Imam, para Tabi’in, para Sahabat, bahkan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. Maaf saya tidak mengkategorikan Ibn Abdulwahhab sebagai Imam Madzhab, karena seorang Imam Madzhab adalah orang yang suci dari mencaci maki muslimin, apalagi menganggap musyrik pada ahli syahadat, atau menganggap perbuatan Sahabat Rasul radhiyallahu’anhum adalah Bid’ah munkarah.

Imam madzhab adalah pewaris Rasul shallallahu alaihi wasallam, orang yang berjiwa arif dan lidahnya selalu basah berdzikir kepada Allah, mendoakan yg sesat, mendoakan hidayah bagi orang kafir, demikian pulalah Lidah Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam.

dzikir berjamaah sejak zaman Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, Sahabat, Tabi’in tak pernah dipermasalahkan, bahkan merupakan Sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, dan pula secara akal sehat, semua orang mukmin akan asyik berdzikir, dan hanya syaitan yang benci dan akan hangus terbakar dan tak tahan mendengar suara dzikir. kita bisa bandingkan mereka ini dari kelompok mukmin, atau kelompok syaitan yang sesat.., dengan cara mereka yg memprotes dzikir jamaah, telinga mereka panas, dan ingin segera kabur bila mendengar jamaah berdzikir.

1) Para sahabat berdoa bersama Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam dengan melantunkan syair (Qasidah/Nasyidah) di saat menggali khandaq (parit) Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam dan sahabat2 radhiyallhu ‘anhum bersenandung bersama sama dengan ucapan : “HAAMIIIM LAA YUNSHARUUN..”. (Kitab Sirah Ibn Hisyam Bab Ghazwat Khandaq). Perlu diketahui bahwa sirah Ibn Hisyam adalah buku sejarah yang pertama ada dari seluruh buku sejarah, yaitu buku sejarah tertua. Karena ia adalah Tabi’in.

2) Saat membangun Masjidirrasul shallallahu ‘alaihi wasallam : mereka bersemangat sambil bersenandung : “Laa ‘Iesy illa ‘Iesyul akhirah, Allahummarham Al Anshar wal Muhaajirah” setelah mendengar ini maka Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam pun segera mengikuti ucapan mereka seraya bersenandung dengan semangat : “Laa ‘Iesy illa ‘Iesyul akhirah, Allahummarham Al Anshar wal Muhajirah.. ” (Sirah Ibn Hisyam Bab Hijraturrasul saw- bina’ masjidissyarif hal 116).

3) Ucapan ini pun merupakan doa Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam demikian diriwayatkan dalam shahihain

4) Firman Allah subhanahu wa ta’ala : “SABARKANLAH DIRIMU BERSAMA KELOMPOK ORANG ORANG YANG BERDOA PADA TUHAN MEREKA SIANG DAN MALAM SEMATA MATA MENGINGINKAN KERIDHOAN NYA, DAN JANGANLAH KAU JAUHKAN PANDANGANMU (dari mereka), UNTUK MENGINGINKAN KEDUNIAWIAN.” (QS Alkahfi 28)

Ayat ini turun ketika Salman Alfarisi ra berdzikir bersama para Sahabat, maka Allah memerintahkan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam dan seluruh ummatnya duduk untuk menghormati orang-orang yang berdzikir.

Mereka (sekte wahabi) mengatakan bahwa ini tidak teriwayatkan bentuk dan tata cara dzikirnya, ah..ah..ah.. dzikir ya sudah jelas dzikir, menyebut nama Allah, mengingat Allah subhanahu wa ta’ala, adakah lagi ingin dicari pemahaman lain?,

5). Sahabat Rasul radhiyallahu’anhum mengadakan shalat tarawih berjamaah, dan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam justru malah menghindarinya, mestinya merekapun shalat tarawih sendiri sendiri, kalau toh Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam melakukannya lalu menghindarinya, lalu mengapa Generasi Pertama yg terang benderang dengan keluhuran ini justru mengadakannya dengan berjamaah, Sebab mereka merasakan ada kelebihan dalam berjamaah, yaitu syiar, ah..ah..ah.. mereka masih butuh syiar dibesarkan, apalagi kita dimasa ini..,

Maka kalau ada pertanyaan: “siapakah yg pertama kali mengajarkan Bid’ah hasanah?, maka kita dengan mudah menjawab, yang pertama kali mengajarkannya adalah para Sahabat Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, karena saat itu Umar ra setelah bersepakat dengan seluruh sahabat untuk jamaah tarawih, lalu Umar ra berkata : “WA NI’MAL BID’AH HADZIH..”. (Inilah Bid’ah yg terindah).

Siapa lebih tahu makna menghindari bid’ah?, Umar bin Khattab RA, makhluk nomor dua paling mulia di ummat ini bersama seluruh sahabat radhiyallahu’anhum, atau madzhab sempalan abad ke 20 ini.

6) Lalu para Tabi’in sebab cinta mereka pada sahabat, maka mereka menggelari setiap menyebut nama sahabat dengan ucapan Radhiyalahu’anhu/ha/hum. Inipun tak pernah diajarkan oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, tak pula pernah diajarkan oleh Sahabat, walaupun itu berdalilkan beberapa ayat didalam Al Qur’an bahwa bagi mereka itu keridhoan Allah, namun tak pernah ada perintah dari Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menggelari setiap nama Sahabat Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dengan ucapan radhiyallahu’anhu/ha/hum.

Inipun Bid’ah hasanah, kita mengikuti Tabi’in mengucapkannya karena cinta kita pada Sahabat.

7) Khalifah Umar bin Abdul Aziz menambahkan lagi dengan menyebut-nyebut nama para Khulafa‘urrasyidin dalam khotbah kedua pada khutbah jumat, Ied dll.., inipun bid’ah, tak pernah diperbuat oleh para Tabi’in, Sahabat, bahkan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, namun diada-adakan karena telah banyak kaum mu’tazilah yg mencaci sahabat dan melaknat para Khulafa’urrasyidin, maka hal ini mustahab saja, (baik dilakukan), tak ada pula yg benci dengan hal ini kecuali syaitan dan para tentaranya.

Lalu kategori Bid’ah ini pun muncul entah darimana?, membawa hadits: “Semua Bid’ah adalah sesat dan semua sesat adalah di neraka”. Menimpakan hadits ini pada kelompok Sahabat.

Ah..ah..ah… adakah seorang muslim mengatakan orang yang memanggil nama Allah Yang Maha Tunggal, menyebut nama Allah dengan takdhim, berdoa dan bermunajat, mereka ini sesat dan di neraka?

Orang yg berpendapat ini berarti ia telah mengatakan seluruh nama nama diatas adalah penduduk neraka termasuk Umar bin Khattab ra dan seluruh sahabat, dan seluruh Tabi’in, dan seluruh ulama ahlussunnah waljama’ah termasuk Sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yang juga diperintah Allah untuk duduk bersama kelompok orang yang berdoa, dan beliau lah shallallahu ‘alaihi wasallam yang mengajarkan doa bersama sama.

Kita di Majelis Majelis menjaharkan lafadz doa dan munajat untuk menyaingi panggung panggung maksiat yang setiap malam menggelegar dengan dahsyatnya menghancurkan telinga, berpuluh ribu pemuda dan remaja MEMUJA manusia manusia pendosa dan mengelu-elukan nama mereka.. menangis menjilati ludah dan air seni mereka.

Salahkah bila ada sekelompok pemuda mengelu-elukan nama Allah Yang Maha Tunggal?, menggemakan nama Allah?,

Ah..ah..ah.. Apakah nama Allah sudah tak boleh dikumandangkan lagi dimuka bumi?

Seribu dalil mereka cari agar Nama Allah tak lagi dikumandangkan.. cukup berbisik bisik..!, sama dengan komunis yg melarang meneriakkan nama Allah, dan melarang kumpulan dzikir..

Adakah kita masih bisa menganggap kelompok wahabi ini adalah madzhab? Kita Ahlussunnah waljama’ah berdoa, berdzikir, dengan sirran wa jahran, di dalam hati, dalam kesendirian, dan bersama sama.

Sebagaimana Hadist Qudsiy Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“BILA IA (HAMBAKU) MENYEBUT NAMAKU DALAM DIRINYA, MAKA AKU MENGINGATNYA DALAM DIRIKU, BILA MEREKA MENYEBUT NAMAKAU DALAM KELOMPOK BESAR, MAKA AKUPUN MENYEBUT (membanggakan) NAMA MEREKA DALAM KELOMPOK YG LEBIH BESAR DAN LEBIH MULIA”. (HR Bukhari Muslim).

Saran saya, kita doakan saja madzhab sempalan abad ke 20 ini, agar mereka diberi hidayah dan kembali kepada kebenaran.

Wahai Allah, telah terkotori permukaan Bumi Mu dengan sanubari sanubari yg disesatkan syaitan, maka hujankanlah hidayah Mu pada mereka agar mereka mau kembali pada kebenaran, beridolakan sang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beridolakan Muhajirin dan Anshar, berakhlak dengan akhlak mereka, sopan dan rendah diri sebagaimana mereka. Demi Kemuliaan Ramadhan, Demi Kemuliaan Shiyaam walqiyaam, Demi Kemuliaan Nuzululqur’an, dan Demi Kemuliaan Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, amiin.

Terimakasih atas surat anda, semoga penjelasan saya dapat memperkuat I’tikad kita dan bagi para pengunjung website kita untuk tidak tercemar dengan fitnah fitnah, dan tetap berpijak dengan mantap pada Ahlussunnah wal jama’ah, amiin.

Wassalam

Al Habib Munzir Al Musawa

Tambahan:

Dalil-dalil seputar dzikir berjama’ah, http://jundumuhammad.wordpress.com/2011/07/17/dalil-dalil-diperbolehkannya-berdzikir-secara-jahr-dan-secara-berjamaah/

http://www.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=28&func=view&id=43&catid=9

(Terima kasih semuanya: www.ahamid.com)

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Powered by WordPress | Visit www.iFreeCellPhones.com for Free Cell Phones. | Thanks to Palm Pre Blog, MMORPG and Fat burning furnace review