Lafaz Nikah Mutáh

Untuk melangsungkan akad nikah mut’ah (temporer) terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi:

  1. Membaca formula akad; artinya bahwa semata-mata rela dan ridha di antara kedua belah pihak, pria dan wanita belum memadai melainkan harus disertai dengan ekspresi lafaz khusus).
  2. Sesuai dengan ihtiyath wajib, formula akad harus disampaikan dalam bahasa Arab yang baik dan benar. Dan apabila pria dan wanita tidak dapat membaca akad dalam bahasa Arab dengan baik dan benar maka keduanya dapat (dibolehkan) membaca akad dengan bahasa mana pun dan tidak diwajibkan bagi mereka untuk mengambil wakil akan tetapi sedemikian ia berkata-kata sehingga makna “zawwajtu” (aku nikahkan) dan “qabiltu” (aku terima) dapat dipahami dengan benar.
  3. Apabila wanita dan pria ingin menyebutkan formula akad temporer, setelah keduanya menentukan masa akad dan maskawin, misalnya wanita berkata, Zawwajtuka nafsi fi al-muddat al-ma’lumah ‘ala al-mahr al-ma’lum” (Saya nikahkan diriku denganmu dalam tempo yang telah ditentukan dan dengan maskawin yang telah ditentukan).  Kemudian setelah itu (tanpa jeda) sang pria berkata, “qabiltu” (Saya terima) maka akad nikah yang mereka baca sah. Atau wakil wanita dengan berkata kepada wakil pria, “Matta’tu muwakkilati muwakkilaka fi al-muddat al-ma’lumah ‘ala al-mahr al-ma’lum” (Saya nikahkan wakilku [dengan] wakilmu dalam tempo yang telah ditentukan dan dengan maskawin yang telah ditentukan” maka akad nikah yang mereka baca sah.
  4. Menentukan dan menyebutkan mahar tatkala membaca akad.
  5. Pria dan wanita, atau wakil keduanya membaca formula akad harus dengan niat insyâ (imperatif), artinya apabila pria dan wanita sendiri yang membaca formula akad, wanita dengan membaca “zawwajtuka nafsi” (Saya nikahkan diriku) maka niatnya adalah ia menjadikan dirinya sebagai istri dan pihak pria dengan membaca “qabiltu al-tazwij” (Saya terima nikahnya) ia menerima wanita tersebut sebagai istrinya.
  6. Orang yang melangsungkan akad (yang menikah) itu harus berakal dan berusia baligh.
  7. Apabila wakil pihak istri dan suami, atau wali keduanya membaca formula akad maka mereka harus menentukan istri dan suami dalam akad yang mereka bacakan.
  8. Anak putri yang telah mencapai usia baligh dan rasyidah yaitu telah mampu mengidentifikasi dengan baik kemaslahatannya dan ia ingin bersuami, jika ia seorang perawan maka ia harus meminta izin dari orang tuanya atau dari kakeknya (dari pihak ayah). Namun apabila ia tidak lagi perawan dan keperawanannya hilang lantaran pernikahan (sebelumnya) maka ia tidak lagi memerlukan izin dari ayah atau kakeknya (dari pihak ayah).
  9. Wanita dalam proses berlangsungnya akad temporer (mut’ah) tidak terikat akad permanen (daim) atau temporer (mut’ah) dengan orang lain (bukan istri orang lain) dan juga tidak berada dalam masa iddah akad permanen atau temporer orang lain.
  10. Pria dan wanita harus ridha dan rela atas pernikahan dan bukan karena terpaksa (atau dipaksa) sehingga keduanya menikah.

Keikhlasan Wanita Berpoligami – Dari Facebook

  • ‎”Suamiku, aku tidak suka dengan wanita yang mendekatimu saat ini, aku telah melamarkan seorang wanita sholeha untukmu….tapi bila kau ingin mencari wanita lain kau harus mencari wanita yang aku sukai juga, karena dia akan menjadi bagian dari hidupku…..” Salahkah kalau istri meminta seperti itu, apakah itu sudah bisa dikatakan ikhlas untuk menjalani poliogami ?
    Yang minta dibahasnya bukan poligaminya…..tapi dalam memaknai keikhlasan untuk masalah seperti ini…..adakah yang mau memberikan pendapat  untuk hal ini ?
    · · · Sunday at 10:41am

    • You and 41 others like this.
      • Masayu RonnySubhanalloh… Menurut sy tidak salah… Bagaimanapun seseorg yg akan menjd bagian dr hidup qta minimal sejalan n biasanya wanita lbh peka!! Yg sy dengar, istri nabi aja meski bilang setuju saat bersandar di pohon kurma, pohon itu menjd gosong… Itu gambarannya mbak meski ikhlas … Salut buat mbak

        Sunday at 10:57am · “}’> · 2
      • Sitidharma AzizahMbak tresna..seorg istri yg mengikhlaskan suaminya untk berpoligami..jk ikhlas..maka syurga untknya..seharusnyalah madu yg qt inginkan yg sekufu..baik dlam pemikiran maupun dalam perilaku2 menegakkan kebaikan..makanya Rasulullah tak izinkan Ali memadu fatimah..karna tak sekufu dalam fikrah..dan madu adalah mitra dalam membentuk kelg besar serta pribadi2 didalamnya mjd insan2 yg mulia disisi Allah..bagaimana akan bisa berjalan kalau mitranya saja tak sefikrah..tentu sulit menggapai poligami yg sesuai dg yg diajarkan Rasulullah…. Wallahuallam bissawwab

        Sunday at 11:00am via mobile · · 4
      • Tresna BayuningsihMemang aku sudah menjalankan poligami,,,,sekarang lagi cari istri yang ketiga…… :)

        Sunday at 11:02am · “}’> · 2
      • Sholi SuhadakBagi saya ikhlas hanya ada dihati, seorang istri yg mengatakan ikhlas dipoligami adalah  istri yg menyerah dalam ketidak berdayaan….

        Sunday at 11:05am via mobile · “}’>
      • Tresna BayuningsihSholi Suhadak……huuups betulkah, bisa dibuktikan ketidakberdayaan istri yg mau dipoligami? bagaimana dgn Siti Aisyah dan para istri Nabi lainnya, apakah mereka para wanita yang takberdaya ???

        Sunday at 11:09am · · 5
      • Ulil Nurul KarimahSubhanalloh, keridoan & persetujuan seorang istri a/  modal b’poligami. Spt yg rosululloh contohkan. Meski poligami dibenarkn dlm Islam, smg d/ pelaksanaannya tdk ada yg tersakiti. Tanggung jwb seorang swamipun m’jdi lbh berat, krn hrs menafkahi lhr bathin &  m’didik beberapa istri & ank2nya skaligus. Smg Alloh senantiasa membimbing & melindungi te2h & swami jg klwrga besar

        Sunday at 11:15am via mobile · “}’> · 4
      • Nurul Fitriana Ahbabuz ZahraSubhanallah teh..salut..tp sdh teteh pertmkn wnt pilih yg tth mksd pd suami..bersediakah wnt pilihan tth .1atap dng tth..krn teh blm merasakan hdp d poligami.ana pun ingin seperti itu.krn ana melihat sendiri dr keluarga ana hdp 1 atap 2 istri,.rukun.sholat berjamah..mkn bersama anak”akur..seneng bngt.tp teh semua itu pasti tdk mulvs ada kelnk kelnik perselisihan..mdh2 insya Allah apa yg teh harapkan bs terlaksana amin Allahuma amín..mf y teh.

        Sunday at 11:15am via mobile · “}’> · 4
      • Anton ZainudinOow tegar banget panjenengan…

        Sunday at 11:22am via mobile · “}’> · 2
      • Tresna Bayuningsih Neng Nurul Fitriana Ahbabuz Zahra….aku sudah mengalami poligami …..InsyaAllah semua baik-baik saja, aku menyayangi maduku….. :)

        Sunday at 11:22am · · 6
      • Pito DfSubhanallah

        Sunday at 11:24am via mobile · “}’> · 1
      • Ummu NauvalDalam mslh ta’addud/poligami, keikhlasan istri bukan syarat. Melainkan maslahat. Namun demikian, istrI yg mau menerima niat mulia suami u/ poligami akan mendptkn tmpt yg mulia di sisi Alloh. Krn ikhlas itu berbuat apa sj semata u/ mengharapkn ridlo Allah. Untuk itu, suami yg berniat ta’addud diharapkan mengkomunikasikan dulu dg istri. Agar istri ikhlas menerima. Sayang sekali kan, apabila pengorbanan perasaan istri ini jadi tidak bernilai ibadah bila tdk ada keikhlasan di hatinya. Mengkomunikasikan, artinya disini dalam segalanya. Trmsuk identitas calon madunya. Boleh istri mengajukan syarat, tp pilihan tetap ditangan suami. Suami yg sayang istri tentu akan mempertimbangkan perasaan istri.

        Sunday at 11:38am via mobile · “}’> · 5
      • Sitidharma Azizah Subhanallah ..tak akan terjadi sebuah keluarga dg kemuliaan..jika didalamnya tak ada orag2 yg mulia…yg ikhlas membagi  sst yg dicintainya dg orang lain..yg mau dg lapang membagi miliknya dg yg lain..n banyak lagi bagi2an yg lain…krn pd dasarnya manusia suka tambah2an.. ƍäª suka dg bagi2an….subhanallah..smg Allah merahmati mbak n kang rido srta kelg besar…

        Sunday at 11:41am via mobile · “}’> · 2

         

      • Tresna BayuningsihUntuk semua sahabat maafkan…..saya bukan ingin membuka masalah pribadi. Saya hanya ingin poligami dipandang sebagaimana mestinya…..bukan hal yang salah dan menakutkan, soalnya selama ini pelaku poligami selalu dipandang hida, berdosa padahal tidak begitu…..dalam kehidupan pelaku poligamipun masih banyak kebaikan yang bisa dilakukan….. :)

        Sunday at 11:42am · “}’> · 5
      • Nurul Fitriana Ahbabuz ZahraMudah”dy juga menyayangi teh”anak”teh.keluarga besar teh”n suami.tdk hanya di luar tp d btin jg..Ya Allah saudariqu ini ibu bidadari disurgaMU..

        Sunday at 11:45am via mobile · · 1
      • Tresna BayuningsihNurul Fitriana Ahbabuz Zahra….Alhamdulillah anak2 kami juga akur dan tinggal bersama…..Aamiin, terimakasih doanya… :)

        Sunday at 11:47am · · 3
      • Ummu NauvalPoligami bukan suatu aib, dan sama sekali bukan kehinaan. Allah ‘Azza wa Jalla saja meridloi poligami. Bila pribadi2 yg terlibat di dalamnya mempunyai visi misi yg sama yaitu mencari ridla Allah, tentu kemaslahatan yang akan tercapai.

        Sunday at 11:49am via mobile · “}’> · 4
      • Denis Sri Wahyuni Ass,wr,Wb,Subhanalloh,terytaa,uktiku,ni,berhti ,mullia,,,begtu,bgstausyiahnya,muda,mdhan,jdi،wanta,rido,segl,glanya,Aamin,,

        Sunday at 11:56am via mobile · “}’> · 1

         

      • Khalid Abdullahmudah2an byk para akhwat yg faham ttg poligami spt antum shingga mrk tdk membenci syariat ini…

        Sunday at 12:39pm · “}’> · 2
      • Ummu Nauval Aamiin Yaa Robb…
        Yg hrs qt yakini, bahwa syariat Islam itu tidak ada yang bertentangan dg fitrah manusia. Dan penuh kemaslahatan. Termasuk tentang Poligami. Bila saat ini syariat ini msh dianggap aneh, menyakitkan, bahkan menakutkan khususnya para akhwat, itu karena kurangnya sosialisasi dan pemahaman. Dan, satu lagi, contoh nyata yg ada di masyarakat kita bukan poligami yang islami, tp poligami yg mengedepankan nafsu syahwati.

        Sunday at 12:55pm via mobile · “}’> · 3
      • Hanan IndahSubhanallah.. Sahabatku, InsyaAllah itu sbuah prmintaan yg baik d benar, agar poligami yg ada tdk mjd prtarungan d prsaingan, sdgkan keikhlasan hasil dari prjalanan hidup yg dilaluiny dg sabar dan tawakal.. Barakallah ..

        Sunday at 12:58pm via mobile · “}’> · 1
      • Lis Rahayukalau akang benar soleh,iman dan taqwanya tdk diragukan lagi ..tdk usah khawatir pilihannya seharusnya yg sholehah ..akan tetapi mengambil istri yg asalnya sdh sholehah itu biasa tapi mengambil istri yg tdk tau agama dari lumpur yg hina …tapi niat bertobat dan menjadikannya muslimah yg lebih sholehah itu baru luar biasa …tapi tdk semudah kata2.pendapatku mah lebih baik sbg istri diam dan terserah beliau ..siapapun dia ..jadikan ladang amal utk mengisi koper amalan yg kita akan bw ke akhirat.krn rapot diri adalah peunteun perbuatan kita pd org lain bkn sebaliknya.semakin buruk perbuatan org pd kita tp kita sabar makin bagus rapot kita .. astaghfirullah maaf mba Tresna knapa sy malah lancang menasehati . mba lbh bnyk mengerti ilmunya.saya dr jauh cuma bisa mendoakan mba agar tetap istiqomah pd iman islam .

        Sunday at 1:25pm via mobile · “}’> · 3
      • Nurul Fitriana Ahbabuz ZahraKang kholid ana setuju ada polygami dr pd kaum ikhwan berbuat selingkuh n zina mending weh suruh nikah lagi..

        Sunday at 1:28pm via mobile · · 3
      • Sholi SuhadakPara istri nabi menyadari betapa besar tugas mereka sbg ummul mukmin….tp syukurlah kalo memang benar sekarang ini tugasnya sbg seorang istri sama besarnya dengan tugas para istri Rosul……

        Sunday at 1:39pm via mobile · “}’> · 1
      • Dadang Syaripudinyang seperti dalam cerita di atas, bukan ikhlash, tapi ridho tepatnya, merelakan (ridha) suami beristri lagi dengan wanita pilihan si Istri. Kerelaan itu akan menjadi baik (bernialai positif/pahala dari Allah) manakala kerelaan tersebut didasari keikhlashan.  Keikhlasahan sendiri adalah kemurnian hanya karena Allah dan hanya untuk mendapatkan rahmat, berkah maghfirah dan ridha Allah.

        Sunday at 2:20pm · “}’> · 5
      • Muhammad Umar Hanifa WijayaSubhanallah..

        Sunday at 5:04pm · “}’> · 1
      • Umar Hasbuanada 4 yang paling ALLAH uji pada wanita.1 di cerai mati.2 di cerai hidup.3 berpridakat janda.4 di poligami.bila mereka wanita ridhho akan hal ini maka ALLAH akan membangun rumahnya di surga rumah rumah yang bertahatakan emas permata,,d tambah dengan[,,,,,,],,,maka beruntunglah mreka wanita yang ridha akan ujian itu

        Sunday at 6:22pm · · 10
      • Denis Sri Wahyuni،Aamiin,Allohuma,Aamin,

        Sunday at 6:27pm via mobile · “}’>
      • Evy Damayanti AribowoSubhanAllah….adakah wanita spt teteh? yg bgtu mengikhlaskan suaminya utk berpoligami? salut utk teteh…smg Allah membalas surga utk teteh..

        Sunday at 8:45pm · “}’> · 2
      • Hamba Allohsang suami kemana nih…kok ga ada komennya…:)

        Sunday at 9:14pm · “}’> · 1
      • Martinie Gitu LoAstagfirullooohhh ..Kang Rido poligami juga? Ga sangkaa ..ga jauh beda ya ama A.Agym…padahal kan masih banyak ibadah sunah yg lain selain poligami ya…maap sy kkecewa…

        Sunday at 10:36pm via mobile · “}’>
      • Tresna Bayuningsih Neng Martine Martinie Gitu Lo…..loh kok jadi Neng yang kecewa, saya saja ga kecewa…..saya bahagia jadi idtri Kang Rido…. :)

        Sunday at 10:41pm · · 4
      • Ardhi Wira Natajalani sesuai Takdirmu yg tertulis .. dan berusaha memahami lebih bijaksana.

        Sunday at 10:56pm · · 3
      • Ardhi Wira NataMartinie Gitu Loapakah A.Agym salah dimana letak Agamamu..???

        Sunday at 10:59pm · · 1
      • Martinie Gitu LoȂƖĥä♏ϑůƖïƖƖαħ kkalo tth dimampukan oleh Allah untuk menerima takdir tth jgn pernah sia2kan jihad rasamuu untuk meraih cinta Allah ya the..pami saur orang sundamah Ulah kagok nya iklas ama Ridona gt ya ..yg ∂ķΰ heran dan kecewa knp yaa sunah poligami itu datang dr sosok para ustad yg banyaaakk umatnyaa..mungkin tingkat ilmu nya udah mateng kali yaaa menyamai Rosul sama tingkat adilnyaa yg udah setingkat Rosul ya..yg jadinya dikhawatirkan di ikkuti umat yg kurang ilmuu jdnyaa salah niat juga ahh..semoga Allah mengampuni saja maap lahir batin kalo begitumah ah ..yupp

        Sunday at 11:04pm via mobile · “}’> · 3
      • Ardhi Wira Nata semua itu ujian dan perjalanan didunia ini hanya senda gurau …. silahkan memaknai dan mempaelajari Al-Qur’an dengan baik, tiada seorang pun yg bisa melawan Takdir dariNya, karena melawan takdir dariNya adalah sama membantah Sang Pencipta.@Martnie Martinie Gitu Lo

        Sunday at 11:08pm · · 2
      • Martinie Gitu Lo‎@Kang Ardi : agama ∂ķΰ ga bagus kurang dan jeelek jauh dr sempurna..∂ķΰ ga menyalahkan pelaku poligami yg akku herankan benar atau tidak niatnya kalo saja ga salah ga mungkin the ninih sempat cerai •*˚*•(*) Îγα™ (*)•*˚*•. Kan? Itu buktiii ga ada yg seadil Rosul,,,masih banyaaaakk sunah yg lainn dr pada nyakitin hati perempuan ..

        Sunday at 11:10pm via mobile · “}’>
      • Ardhi Wira NataSemua yang di ciptaan dan semua peristiwa terjadi Allah putuskan dengan “AR RAHMAN – AR RAHIM” menuju RAHMATNYA, “AL ALIIM” dan Ilmunya, “ALHAKIM” serta KEBIJAKANNYA. Untuk setiap kejadian selalu penuh dgn rahmatNya, hikmahNya, “blessing in disguese” & tidak akan bisa dibaca oleh mereka yg panik ” Alkuflu ” hati tertutup emosi karena tidak rela dgn musibah. Karena itu Rasulullah s.a.w mengajarkan doa bila musibah terjadi, “Ya Allah..!!! hamba bukan menolak takdirMU, takdirMU adalah takdirMu, berilah kpd hamba Keihklasan, Kesabaran, Ketakwalan, Baik Sangka dan Kecerdasan menangkap Bahasa Hikmah dibalik segala Takdirmu…Amiin”

        Sunday at 11:18pm · · 2
      • Tresna Bayuningsih Neng Martinie Gitu Lo…..poligami merupakan takdir juga, tidak semua orang bisa melakukannya dalam  masalah saya dengan Kang Rido ga ada kok yang tersakiti…..udah dibacakan statusnya dgn seksama…..ada seorang wanita yg mendekati Kang Rido dan saya kurang sreg dgnnya .saya yang memilihkan seorang wanita untuk Kang Rido tapi kalau Kang Rido ga suka dgn pilihan  saya Kang Rido boleh pilih sendiri wanita yang dia suka tetapi sayapun harus menyukainya, karena kita akan hidup berdampingan. istri Kang Rido kelak adalah bagian dari hidup saya juga kalau dengan cara itu InsyaAllah tidak akan ada yang tersakiti….tapi Kang Ridonya hanya senyum-senyum tuh…..hehehe

        Sunday at 11:20pm · · 5
      • Ingka Tiyastika Wah….aku baru baca nih…. Smoga Teh Tresna Bayuningsih dan kang Rido Ramdan Sumantri …..mendapatkan yang terbaik utk smua.nya yaaa…. Yakin ya, teh Tresna….pastilah Alloh akan pilihkan yang terbaik… Aamiin… (Doa aku dan mas Edhi Permana Hardjoreksoko).

        Sunday at 11:26pm · · 3
      • Ardhi Wira Nata Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,
        dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. 2:216)

        Sunday at 11:27pm · “}’> · 3
      • Tresna Bayuningsih Neng Ingka Tiyastika…….Aloohumma Aamiin, terima kasih doanya…. :)

        Sunday at 11:27pm · “}’> · 2
      • Umar Hasbuansaudariku yang wanita,,yakinkah kalian bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini adalah sandaran ujian bagi kalian?.yakinkah kamu (wanita]90% amalan kalaian itu ada didalam rumah?lalu kenapa kebanayakan dari wanita terlalu banyak menuntut keadilan kepada suaminya,pada hal ada batasan bagi istri untuk terlalu banayak bertanyak kepada suaminya

        Sunday at 11:29pm · · 5
      • Umar Hasbuansaya hanya bisa katakan kebahagiaan seorang istri ada pada anak anaknya,dan tanggung jawab suami yang adil,bila itu kamu rasakan.kamu bisa mengalahkan kebahagiaan seorang suami,walau dia beristri 3,4,sebagai batasanya

        Sunday at 11:34pm · Edited · “}’> · 1
      • Nurul Fitriana Ahbabuz Zahraudh ah teh jng di bhs di sini jd nti bnyk yg jeles teh kaum hawanya,hehe wilujeng reht,buat bngn sholt mlm ,.

        Sunday at 11:34pm via mobile · “}’> · 3
      • Dadang Syaripudin Halooooooooo. Assalamu`alaikum, dupi Kang Rido Ramdan Sumantriaya…………..?

        Yesterday at 12:12am · “}’>
      • Tresna BayuningsihWaalaikumsalam……aya nuju gumujeng…….hehehe

        Yesterday at 12:13am · “}’> · 1
      • Dadang Syaripudin Kang Rido Ramdan Sumantri, coba dong dibagi tips nya, langkah-2 strategis biar para istri bisa rela dipoligami…….. he he he

        Yesterday at 12:13am · “}’> ·

        Tidak Adil, Istri Kedua Kiwil Pilih Pisah

        Keadilan adalah syarat multak dalam membina hubungan berrumah tangga, terlebih bagi mereka penganut poligami. Jika kurang adil dalam hal kecil saja, bisa berakibat fatal, dapat menjadi pemicu perpecahan rumah tangga.

        Komedian Kiwil dengan istri keduanya, Megi Wulandari memilih berpisah setelah sekian tahun berumah tangga, dan dikarunia dua anak. Megi merasa mendapatkan perlakuan kurang adil, walaupun disadari juga kalau keadilan itu tidak pernah ada dalam diri manusia.

        “Keadilan itu hanya milik Allah jadi manusia itu hanya berusaha untuk berbuat adil, tapi keadilan itu hanya tetap milik Allah. Jadi sebagaimanapun manusia untuk berbuat adil tetap aja nggak bisa kalau menurut saya. Mungkin ada di luar sana poligami-poligami yang adil, tapi aku nggak aku sama mas Kiwil,” terang Megi Wulandari saat ditemui di kawasan Dharmawangsa Jakarta Selatan, Kamis (20/10/2011).

        Meski memilih berpisah, menurut Megi hubungannya dengan Kiwil masih tetap berjalan dengan baik. Hanya saja komunikasi tidak berjalan secara intens, tidak secara rutin ketemu seperti saat menjadi suami istri.

        Megi yang dinikahi secara siri itu, tetap memberi kebebasan pada Kiwil untuk menemui anak-anaknya, bahkan juga masih sering menginap. Sebagai manusia, masing-masing tetap menyanyangi dan menghormati satu sama lain.

        “Selama ini baik tapi komunikasi saja yang nggak gitu intens. Mungkin tidak seperti dulu, tapi kita tetap menyayangi satu sama lain,” ungkapnya.

        “Aku dan Mas Kiwil itu pasangan yang terbilang unik ya. Karena aku dan Mas Kiwil tetap baik, bagaimana nggak tetap baik, Mas Kiwil tetap ke rumah keluarga saya, ke rumah ibu saya. Tetap memberikan kasih sayang kepada anak-anak, sesuka dia aja. Kalau dulu kan ada keharusan yang menuntut dia pulang. Tanggapan Mas Kiwil selama itu membuat saya bahagia pasti itu akan dilakukannya dan asal membuat saya bahagia,” ungkap Megi. (kpl/buj/dar)

        Dicerai Istri Kedua, Kiwil Tetap Ingin Poligami

        Jakarta-C&R/OMG- Komedian Kiwil belum lama ini dicerai istri mudanya, Megi. Kendati demikian, tak menyurutkan hasrat Kiwil untuk menikah lagi atau poligami. “Kalau masalah poligami, Kiwil tetep poligami,” ujar Kiwil saat menghadiri pembukaan klinik herbal Jeng Ana di Kalibata Timur 1, Jakarta Selatan, Rabu (9/11/2011).

        Bagi Kiwil, poligami bukanlah sebuah tindakan jahat terhadap istri pertama atau semata-mata keegoisan seorang lelaki. “Orang yang menganggap jahat itu orang yang tidak mengerti. Bukan berarti suami egois, tergantung rumah tangga bisa berjalan dengan harmonis atau tidak,” terang Kiwil.

        Ketika ditanya lebih lanjut, mengenai perkembangan dirinya dengan Megi, Kiwil serasa enggan menjawab. “Kalau itu gua no coment. Waktu yang lalu, biarkan masa lalu. Istri berhak untuk cerai,” ucapnya. (Deva

        Pertentangan pendapat mereka

        16 Oktober 2011 oleh mutiarazuhud

        Mereka mendapatkan pertentangan dalam pendapat mereka sendiri

        Firman Allah Azza wa Jalla,

        أَفَلاَ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ اخْتِلاَفاً كَثِيراً

        Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an ? Kalau kiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS An Nisaa 4 : 82)

        Firman Allah ta’ala  dalam (QS An Nisaa 4 : 82) menjelaskan bahwa dijamin tidak ada pertentangan di dalam Al Qur’an. Jikalau manusia mendapatkan adanya pertentangan di dalam Al Qur’an maka pastilah yang salah adalah pemahaman mereka.
        Dengan arti kata lain segala pendapat atau pemahaman yang bersumber dari Al Qur’an dan Hadits tanpa bercampur dengan akal pikiran sendiri atau hawa nafsu maka pastilah tidak ada pertentangan di dalam pendapat atau pemahaman mereka.

        Sekarang kita perhatikan pendapat dari salah seorang ulama mereka.

        *****awal kutipan*****
        “Hadits semua bid’ah adalah sesat, bersifat global, umum, menyeluruh (tanpa terkecuali) dan dipagari dengan kata yang menunjuk pada arti menyeluruh dan umum yang paling kuat yaitu kata-kata (seluruh)”. Apakah setelah ketetapan menyeluruh ini, kita dibenarkan membagi bid’ah menjadi tiga bagian, atau menjadi lima bagian? Selamanya, ini tidak akan pernah benar.” (Muhammad bin Shalih Utsaimin dalam  al-Ibda’ fi Kamal al-Syar’i wa Khathar al-Ibtida’, hal. 13).
        *****akhir kutipan*****

        Pendapat dilain kesempatan berbunyi,

        *****awal kutipan*****
        “Hukum asal perbuatan baru dalam urusan-urusan dunia adalah halal. Jadi, bid’ah dalam urusan-urusan dunia itu halal, kecuali ada dalil yang menunjukkan keharamannya. Tetapi hukum asal perbuatan Baru dalam urusan-urusan agama adalah dilarang. Jadi, berbuat bid’ah dalam urusan-urusan agama adalah haram dan bid’ah, kecuali ada dalil dari al-Kitab dan Sunnah yang  menunjukkan keberlakuannva.” (Al-Utsaimin, Syarh al-Aqidah al Wasithiyyah, hal. 639-640)
        *****akhir kutipan*****

        Pertentangan dalam pendapat mereka sendiri yakni,

        Pada pendapat pertama beliau menyampaikan bahwa “semua bid’ah adalah sesat (tanpa terkecuali)” namun pada pendapat kedua beliau bertentangan dan menyatakan bahwa bid’ah ada dua macam yakni bid’ah dalam urusan-urusan dunia dan bid’ah dalam urusan-urusan agama.

        Pada pendapat kedua beliau menyampaikan bahwa bid’ah dalam urusan-urusan agama adalah haram kecuali ada dalil dari al Kitab dan Sunnah yang menunjukkan keberlakuannya.   Pendapat ini bertentangan karena bid’ah adalah perkara baru, kalau ada bid’ah yang mempunyai dalil dari al Kitab dan Sunnah maka itu namanya bukan perkara baru

        Pendapat atau pemahaman atau definisi atau kaidah yang benar akan teruji dan tidak ada pertentangan di dalamnya.  Jika ada pertentangan di dalamnya maka jelaslah ada tercampur dengan akal pikiran sendiri atau tercampur dengan hawa nafsu.

        Rasulullah shallallahu alaihi wasallam hanya menyampaikan apa yang diwahyukanNya, tidak bercampur dengan akali pikiran  sendiri maupun hawa nafsu.

        Oleh karenanyalah para ulama sebaiknya  hanya menyampaikan apa yang didengar dan dipahami dari ulama-ulama yang sholeh sebelumnya yang tersambung kepada lisannya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Inilah yang dinamakan dengan sanad ilmu atau sanad guru.

        Barangsiapa menguraikan Al Qur’an dengan akal pikirannya sendiri dan benar, maka sesungguhnya dia telah berbuat kesalahan”. (HR. Ahmad)

        Dari Ibnu Abbas ra Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda…”barangsiapa yg berkata mengenai Al-Qur’an tanpa ilmu maka ia menyediakan tempatnya sendiri di dalam neraka” (HR.Tirmidzi)

        Imam Syafi’i ~rahimahullah mengatakan “tiada ilmu tanpa sanad”.

        Al-Hafidh Imam Attsauri ~rahimullah mengatakan “Penuntut ilmu tanpa sanad adalah bagaikan orang yang ingin naik ke atap rumah tanpa tangga

        Bahkan Al-Imam Abu Yazid Al-Bustamiy , quddisa sirruh (Makna tafsir QS.Al-Kahfi 60) ; “Barangsiapa tidak memiliki susunan guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu lagi niscaya gurunya syetan” Tafsir Ruhul-Bayan Juz 5 hal. 203

         

        Contoh rantai sanad ilmu Imam Asy Syafi’i
        1. Baginda Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam
        2. Baginda Abdullah bin Umar bin Al-Khottob ra
        3. Al-Imam Nafi’,Tabi’ Abdullah bin Umar ra
        4. Al-Imam Malik bin Anas ra
        5. Al-Imam Syafei’ Muhammad bin Idris ra

        Bagi ulama yang tidak bermazhab maka pada hakikatnya telah memutus rantai sanad ilmu atau sanad guru.

        Selain itu pergunakanlah akal qalbu (hati / lubb) sebagaimana ulil albab dalam memahami Al Qur’an dan Hadits

        Firman Allah Azza wa Jalla yang artinya,

        “Dan hanya Ulil Albab yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)“. (QS Al Baqarah [2]:269 )

        Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan Ulil Albab” (QS Ali Imron [3]:7 )

        Ulil albab dengan ciri utamanya sebagaiman firmanNya yang artinya
        “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (QS Ali Imran [3] : 191)

        Hal ini telah kami uraikan dalam tulisan sebelumnya pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/15/berdiri-duduk-berbaring/

        Hati adalah wadah cahayaNya , sarana mendapatkan petunjukNya, tabir komunikasi antara hamba dengan sang Khaliq

        Firman Allah Azza wa Jalla yang artinya

        Dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana”. (QS  Asy Syuura [42]:51)

        Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan” (pilihan haq atau bathil) (QS Al Balad [90]:10 )

        maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya“. (QS As Syams [91]:8 )

        Fu’aad (hati) tidak pernah mendustai apa-apa yang dilihatnya’ (QS An Najm [53]:11).

        Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS An Nuur [24]:35)

        Barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun”. (QS An Nuur [24]:40 )

        Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya) ? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. (QS Az Zumar [39]:22)

        Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).” (QS Al Isra 17 : 72)

        Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai“.  (QS al A’raaf [7]:179)

        maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada”. (QS al Hajj [22];46)

         

        Wassalam

         

        Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830

        Kitab tidak bermazhab

        oleh mutiarazuhud

        Sebaiknya hindari kitab ulama yang belajar sendiri dan tidak bermazhab

        Dalam tulisan kami sebelumnya pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/11/02/dari-mulut-ulama/ berisikan himbauan agar kita mengambil ilmu dari mulut ulama yang sholeh yang mengikuti pemimpin ijtihad kaum muslim atau imam mujtahid alias Imam Mazhab.

        Dalam tulisan tersebut kami mencontohkan ulama Al Albani yang belajar agama secara otodidak.

        Lalu mereka bertanya apa buku karya Al  Albani  yang pernah khatam kami baca sehingga dapat memberikan penilaian terhadap ulama  Al Albani

        Kami menyampaikan tentang Ulama Al Albani yang belajar agama secara otodidak berdasarkan apa yang telah disampaikan oleh Al Muhaddits Al Kabir Abdullah al Ghumari Al Hasany  yang merupakan guru dari Mufty Addiyar Al Mishriyah Al Allamah Al Imam Ali Jum’ah (mufti Mesir).

        Al Muhaddits Al Kabir Abdullah al Ghumari Al Hasany adalah Al Allamah di bidang hadits dan ilmu lain. Pada awalnya Hafalan hadits beliau mencapai 50.000 hadits baik sanad maupun matannya namun setelah beliau meninggal banyak ulama yang menjuluki Al Hafidz.

        Jadi yang berpendapat tentang ulama Al Albani adalah ahli hadits yang hafalan hadits mencapai 50.000 hadits baik sanad maupun matan.

        Ulama besar Syria, pakar syariat (fiqih), DR. Said Ramadhan Al-Buthy telah melakukan dialog dengan ulama Al Albani. Kesimpulan dari dialog tersebut dituliskan dalam bukunya yang berjudul Al-Laa Mazhabiyah, Akhtharu Bid’atin Tuhaddidu As-Syariah Al-Islamiyah. Kalau kita terjemahkan secara bebas, kira-kira makna judul itu adalah : Paham Anti Mazhab, Bid’ah Paling Gawat Yang Menghancurkan Syariat Islam. Sekilas tentang buku beliau telah diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/18/paham-anti-mazhab/

        Kami menyarakan sebaiknya hindari  membaca kitab yang ditulis oleh ulama yang dikenal belajar agama bersandarkan belajar secara otodidak atau ulama yang tidak mengikuti pemahaman pemimpin ijtihad (Imam Mujtahid Mutlak) alias Imam Mazhab karena kemungkinan besar akan tercampur dengan akal pikiran mereka sendiri.

        Para ulama menyampaikan ilmu agama tidak diambil dari “Muthola’ah” (menelaah kitab) semata  dengan mengesampingkan “Talaqqi” (mengaji) kepada Ahl Al Ma’rifah Wa Al Tsiqoh (ahli pengetahuan khushush dan dapat dipercaya) dikarenakan terkadang dalam beberapa kitab terjadi “penyusupan” dan “pendustaan” atas nama agama atau terjadi pemahaman yang berbeda dengan pengertian para “salaf” maupun “kholaf” sebagaimana mereka (para ulama) saling memberi dan menerima ilmu agama dari satu generasi ke generasi lainnya maka pemahaman yang berbeda dengan ulama salaf maupun kholaf itu dapat berakibat kepada pelaksanaan “Ibadah fasidah” (ibadah yang rusak) atau dapat menjerumuskan kedalam “Tasybihillah Bikholqihi” (penyerupaan Allah dengan makhluq Nya) atau implikasi negative lainnya.

        Ada yang meluangkan waktu menganalisa kitab-kitab Al Albani, inilah pesannya

        Al Albani sudah keluar dari kaidah ilmu hadis yang sudah ditetapkan oleh para muhaddisin.

        Silahkan buka kitab karangan Al Albani silsilatu al-ahadis al-dho’ifah a al-madhu’ah lihat halaman 95 pada hadis نعم المذكر السبحة

        Al Albani mengatakan hadis ini maudhu’…alasannya هذا اسناد ظلمات بعضها فوق بعض( karena sanadnya tidak mendukung antara satu dengan yang lain ). kemudian syekh juga berkata جل رواته مجهلون بل بعضهم متهم ( rawinya sudah jelas majhul serta muttaham )

        Perkataan Al Albani dikomentari oleh Syekh Al Ghumari (Dalam itqan al-sun’ah halaman 47) muhadis besar mesir yang juga guru hadis dari mufti mesir sendiri Syekh Ali Jum’ah :وهذه العبارة منه تدل علي جهله او تجاهله باصطلاح أهل الحديث. ( ini menunjukan bahwa Al Albani tidak tahu dengan istilah ahli hadis ). karena ‘ibarah tadi bukan untuk rijal yang majhul serta muttaham, tapi untuk rijal yang dha’if ( atau dibahasakan oleh Syekh al-Ghumari dengan rijal dhu’afa ).

        Ini jelas sangat bertentangan dengan kaidah ilmu hadis, karena Al Albani berani mengatakan hadis dengan MAUDHU’, padahal rawinya cuma majhul serta muttaham !

        Siapakah imam-imam ahli hadis yang mengatakan sebuah hadis dengan maudhu’ padahal rawinya cuma majhul dan muttaham. Tetapi dua hal tadi adalah penyebab dha’if wustho. bukan maudhu’.

        Untuk membuktikan ini, silahkan periksa Tadrib al-Rawi milik Imam Nawawi halaman 111. tentang kriteria rawi yang majhul dan muttaham.

        Kemudian silahkan cek juga Shohih Muslim kitabu al-iman dalam bab “bayanu khisali al-munafiq” apakah Imam Muslim mengatakan hadis yang rawinya muttaham serta majhul dengan maudhu’ ?

        Juga silahkan cek kitab imam-imam muhaddis lain yang jelas masyhurnya mengenai apa itu hadis maudhu’ dan kriterianya.

        Kemudian lihat Syarah Alfiah Hadis milik Imam Suyuthi oleh Al-Hafidz al-’Iraqi halaman 88 tentang hadis yang salah satu rawinya muttaham dan majhul apakah beliau mengatakan hadis itu dengan maudhu’ ?

        Albani tidak konsisten dalam mentadh’ifkan atau mentashihkan suatu hadis.

        Dalam kitab Irwau Al-Ghalil karangan Al Albani halaman 234 hadis nomor 1839 Al Albani mengatakan sanadnya dha’if dan rijalnya shahih selain Abi ‘Amiirr.

        Dan silahkan buka kitab silsilatu al-ahadis al-shohihah milik Al Albani halaman 377 hadis nomor 216 dalam pembahasan hadis yang sama seperti yang ada dalam kitab Irwau al-Ghalil. Al Albani mengatakan dalam kitab ini mengenai hadis tadi hadis tadi dengan “hasanulhadis insyaallah”. maksudnya hasan. Jelas ini bertentangan : dalam kitab Irwau al-Ghalil Al Albani mengatakan hadis tadi dha’if, dalam kitab Al-Ahadis Al-Shohihah Al Albani mengatakan hadis tadi hasan. dan Al Albani mengatakan hasan tanpa menyebutkan jalan lain yang bisa mendha’ifkan hadis. ini bukanlah kelakuan muhaddis.

        Berikut pendapat ulama yang lain

        Berikut muqadimah juz pertama kitab Tanaqhudhatu Al-bani karya  Hasan bin ‘Ali Assaqqaf :

        أما بعد : فهذا الجزء الاول من كتابنا الجديد ( سلسلة تناقضات الالباني ) وقد أوردنا فيه ما يزيد على خمسين و مئتين من تناقضات وقعت له ، فهو يصحح أحاديث في كتاب ويضعفها في كتاب اخر ، أثناء تخريجاته للاحاديث النبوية ، والاثار المصطفوية ، وقد كنت ألاحظ ذلك حين أرجع إلى كتبه لاعرف رأيه في حديث ما بعد مراجعتي للحديث من مصادره الاصلية التي تروى الاحاديث فيها بأسانيدها والتي ينقل الشيخ الالباني منها ، والتي خطتها أيدي أولئك الجهابذة الاعلام من أئمة الحديث المتقنين ، فأراه متناقضا جدا ، كثير الوهم والغلط ، فأعجب من ذلك غاية العجب ، لا سيما وقد اغتر كثير من الشباب وطلاب العلم بتخريجاته ، لانهم لا يرجعون إلى الاصول التي ينقل منها ، ولا يدركون تناقضه في الحكم على الحديث ما بين كتاب وكتاب من مصنفاته ومؤلفاته ، لعدم أهليتهم لذلك ،

        فكنت أدون تلك الملاحظات في كراس خاص ، ولما اجتمع عندي من ذلك عدد ضخم وشئ كثير رأيت أن أدون تلك التناقضات في سلسلة ، وكذا الاوهام في سلسلة ، وكذا الاخطاء والقصور في الاطلاع في سلسله أخرى ، وكذا ما يقع له من حذف أو تغيير في كلام السادة العلماء والائمة الذين ينقل من كتبهم قي سلسلة أخرى كذلك ، وأخرجها للقراء ليقفوا على جلية الامر حتى لا يقعوا فيها لا سيما الذين فتنوا به . وغير خاف أن الشيخ يعد نفسه وكذا من فتن به أنه وحيد دهره وفريد عصره ، وأن كلامه لا يجوز الاستدراك عليه ، ولا التعقب على ما لديه ، وأنه فاق السابقين في الوقوف على أطراف الحديث وزياداته وتمحيصها ، وبيان ما خفي على المحدثين والحفاظ من خفايا عللها ، وأنه وإن كان أصغر رتبة في هذا العلم من البخاري قليلا ! لكنه يستطيع أن ينتقده ويضغف ما صححه ! ، كما أنه يستطيع أن يتعقب الامام مسلما حتى فيما لم يسبقه به أحد من الحفاظ المتقدمين ، والائمة السالفين ،

        وقد هضم حقه بعض تلاميذه وشركائه حين وصفه أنه برتبة الحافظ ابن حجر أمير المؤمنين في الحديث ! ، وإلى هنا فقد ( بلغ السيل الزبى ) لا سيما وأن الشباب المفتونين بتخريجاته وتعليقاته ، وأمثالهم ممن أنبهر بمصنفاته ، لا يعرفون اخراج الحديث من الكتب التي ينقل منها ، مع ملاحظة المثل السائر ، ( إن الحب يعمي ويصم ) وقد صرح لهم أنه لا يقلد في هذا الفن أحدا كما صرح في مقدمته الفذة ( لاداب زفافه ) المشحونة بالنيل من أهل العلم والفضل والافتراء عليهم ، فإذا علمت هذا فقبل أن نمثل لك على كل ما قلناه إن شاء الله تعالى برهانا علميا ودليلا حسيا ، نقول : يلزم على من ادعى أنه خلاصة المحدثين ، وزبدة المؤلفين والمصنفين ، الذي فاق بعلمه الاولين والاخرين ، ما خلا الانبياء والمرسلين ، وأنه المحقق الذي غربل ونقى الاخبار والاثار ، وبين الصحيح من السقيم في كلام الاخيار والابرار ، أن يكون الغلط في كلامه أقل ما يمكن ، وأن لا يكثر الخبط في تقريراته ، وأن يكاد يعدم التناقض في ما يحكم عليه ، لاننا نقول جميعا : إن العصمة للانبياء ، والتنزه من الخطأ صفة كتاب الله تعالى ، ونحن لا نقول له : إن نصيحته للناس أن يعولوا على كتاباته المنقحة المهذبة إفي لسان قاله وحاله ( 1 ) توجب أنه معصوم عما قد يقع له من الخطأ

        ، وإنما نقول ونجزم أن من ادعى هذه الرتبة لا ينبغي أن تكون له أغلاط وأوهام وتناقضات فاقت ما وقع للاولين والاخرين وبلغت مئات بل جاوزت ذلك ، وهذه السلسلة ستثبت ذلك بعون الله وتوفيقه تعالى ، وستثبت أنه لا يجوز التعويل على تحقيقاته ،

        Berikut seseorang yang telah membantu menterjemahkannya

        Amma ba’du : ini adalah juz pertama dari kitab saya yang baru : tanaqudhatu al-bani. saya tuliskan disini lebih dari 250 hadis yang bertentangan ( yang dismpaikan oleh syekh Al-bani ). Dia menshahihkan hadis dalam satu kitab, dan mendha’ifkan hadis yang sama dikitabnya yang lain. Saya memperhatikan ini ketika saya sedang mulahadzah kitab-kitabnya syekh Al-bani, dan saya bandingkan dengan sumber-sumber yang asli, pendapat-pendapatnya sangat bertentangan!! penuh dengan dugaan dan kesalahan. Saya heran dan amat sangat heran, sungguh tertipu para pemuda dan pencari ilmu dengan takhrijan syekh Al-bani. Itu karena mereka tidak kembali pada ushul yang dijadikan sumber hukum. Mereka tidak menemukan keganjilan ini, antara satu kitab syekh Al-bani dengan kitabnya yang lain, karena mereka memang tidak punya kapasitas untuk ini.

        Sebelumnya saya membukukan pertentangan-pertentangan syekh Al-bani dalam satu catatan kecil saya, tapi ketika sudah semakin banyak jumlahnya, saya akhirnya memutuskan untuk membukukan pertentangan-pertentangan syekh dalam suatu silsilah, begitu juga dugaan syekh dalam suatu silsilah, serta kesalahn-kesalahan syekh dalam silsilah yang lain  (artinya muallif kitab ini tidak mengumpulkan jadi satu pertentangan-pertentangan syekh Al-bani, serta dugaan-dugaannya, juga kesalahan-kesalahannya. tapi muallif mengumpulkan dalam kitab yang berbeda-beda sesuai dengan pertentangan-pertentangan syekh Al-bani sendiri, yaitu kitab ini, kesalahan-kesalahannya sendiri, serta dugaan-dugaannya sendiri ).

        Begitu juga membuangnya beliau terhadap perkataan ulama yang jadi sumber asli, serta merubahnya syekh Al-bani terhadap isi perkataan para ulama, saya kumpulkan dalam silsilah yang lain. Saya menyusun ini agar menjadi jelas bagi para pembaca agar tidak terjerumus pada fitnah.

        Maka sudah tidak asing lagi bahwa syekh Al-bani yang menganggap dirinya sendiri, serta para pengikutnya menganggap bahwa beliau satu-satunya ( muhaddis ) pada masa ini, dan orang yang paling beruntung ( yang lain salah ) pada masanya, Dan pengikut-pengikutnya yang menganggap bahwa perkataan syekh Al-bani adalah kebenaran mutlak ( la ya juzu al-istidrak ‘alaihi ), dan tidak boleh dikomentari. Serta beliau sudah melampaui para ulama-ulama terdahulu ketika para ulama hadis terdahulu lebih memilih wuquf pada suatu hadis, malah syekh Al-bani berani menerangkan hal-hal yang masih belum jelas dimata para hafidz ( hafidz adalah muhaddis yang hafal 100rb hadis ) padahal ilmu syekh Al-bani masih sangat sedikit dibanding Imam Bukhari !!! Tetapi syekh Al-Bani berani menshahihkan hadis yang didha’ifkan oleh Imam Bukhari, dan mendha’ifkan hadis yang dishahihkan oleh Imam Bukhari. Sampai-sampai syekh Al-bani berani mencari kesalahan-kesalahan Imam Muslim, yang hal itu tidak pernah dilakukan oleh para hafidz hadis dan imam-imam salaf sebelumnya.

        Bahkan para muridnya serta teman-temannya menganggap syekh Al-bani sebagai al-hafidz yang setingkat dengan Ibnu Hajar al-’Asqalani ( amirul mu’minin filhadis ). itu semua karena orang-orang yang mengambil takhrijan syekh Al-bani, tidak tahu dari mana hadis itu berasal. Ibarat sebuah peribahasa : Cinta itu membuat buta dan tuli. Para pengikutnya juga mengatakan, bahwa syekh Al-bani tidak bertaqlid pada siapapun.

        Maka jelas !! bagi orang-orang yang mendakwa bahwa kitab-kitab syekh Al-bani adalah ringkasan kitab-kitab muhaddis, serta kitab pilihan dari kitab-kitab yang lain, yang ilmunya sudah melewati para imam-imam terdahulu dan masa mendatang selain ilmu para nabi-nabi yang diutus, dan bahwasanya syekh Al-bani adalah seorang muhaqqiq, serta pembeda mana kalam yang batil dan shahih, Ini semua, seolah-olah perkataan syekh Al-bani sedikit sekali kesalahannya, serta tidak ada yang salah dengan ketetapan-ketetapannya, dan tidak ada pertentangan terhadap apa yang sudah dihukumi olehnya.

        Saya berkata : ma’sum itu untuk para nabi. Dan bersih dari kesalahan itu adalah sifat dari kitab allah. Dan saya tidak berkata : bahwa nasihat syekh Al-Bani pada manusia untuk percaya pada tulisan-tulisan pada kitabnya yang sudah dikoreksi serta pada apa yang sudah diucapkan, mengharuskan syekh Albani sudah terbebas dari kesalahan. Logikanya orang yang mendakwa syekh Al-bani seperti tadi ( syekh Albani setara dengan Ibnu Hajar dll ), maka otomatis syekh Al-bani sudah pasti terbebas dari kesalahan, bahkan ilmu syekh Al-bani sudah melampui ulama-ulama zaman dahulu dan zaman yang akan datang. Maka saya datang dengan kitab ini ( hadzihissilsilah ) untuk mengoreksi semuanya bi’aunillah. Dan akan menetapkan bahwa kita tidak boleh percaya dengan tahqiqan Al-bani!!

        Pendapat-pendapat ulama lain tentang ulama Al Albani telah dimuat pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/09/07/pendapat-ulama/   atau pada http://jundumuhammad.wordpress.com/2011/10/21/nashiruddin-al-albani-mendhoifkan-suatu-hadits-di-satu-tempat-namun-ditempat-lain-dinyatakan-shahih/

        Wassalam

        Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830

        Ahli bid’ah sebenarnya.

        Dalam beberapa tulisan berturut-turut, kami telah menghimbau untuk menggigit As Sunnah dan sunnah Khulafaur Rasyidin berdasarkan pemahaman pemimpin ijtihad (Imam Mujtahid) / Imam Mazhab dan penjelasan dari para pengikut Imam Mazhab sambil merujuk darimana mereka mengambil yaitu Al Quran dan as Sunnah.  Janganlah memahaminya dengan akal pikiran sendiri atau mengikut pemahaman ulama yang tidak dikenal berkompetensi sebagai Imam Mujtahid Mutlak. Hal ini telah kami uraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/31/gigitlah-as-sunnah/

        Sebaiknya kita mengambil ilmu dari mulut ulama bermazhab dan sholeh. Hal ini telah kami uraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/11/02/dari-mulut-ulama/

        Para ulama telah menyampaikan ilmu agama tidak diambil dari “Muthola’ah” (menelaah kitab) semata  dengan mengesampingkan “Talaqqi” (mengaji) kepada Ahl Al Ma’rifah Wa Al Tsiqoh (ahli pengetahuan khushush dan dapat dipercaya) dikarenakan terkadang dalam beberapa kitab terjadi “penyusupan” dan “pendustaan” atas nama agama atau terjadi pemahaman yang berbeda dengan pengertian para “salaf” maupun “kholaf” sebagaimana mereka (para ulama) saling memberi dan menerima ilmu agama dari satu generasi ke generasi lainnya maka pemahaman yang berbeda dengan ulama salaf maupun kholaf itu dapat berakibat kepada pelaksanaan “Ibadah fasidah” (ibadah yang rusak) atau dapat menjerumuskan kedalam “Tasybihillah Bikholqihi” (penyerupaan Allah dengan makhluq Nya) atau implikasi negative lainnya.

        Kita sebaiknya menghindari kitab ulama yang belajar sendiri dan tidak bermazhab hal ini telah kami uraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/11/03/kitab-tidak-bermazhab/

        Imam Malik ra berkata: “Janganlah engkau membawa ilmu (yang kau pelajari) dari ahli bid’ah; juga dari orang yang tidak engkau ketahui catatan pendidikannya (sanad ilmu); serta dari orang yang mendustakan perkataan manusia, meskipun dia tidak mendustakan hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam

        Ahli bid’ah adalah  mereka yang membuat perkara baru atau mengada-ada yang bukan kewajiban menjadi kewajiban (ditinggalkan berdosa) atau sebaliknya, tidak diharamkan (halal) menjadi haram (dikerjakan berdosa) atau sebaliknya dan tidak dilarang  menjadi dilarang (dikerjakan berdosa) atau sebaliknya.

        Rasulullah mencontohkan kita untuk menghindari perkara baru dalam kewajiban (jika ditinggalkan berdosa)

        Rasulullah bersabda, “Aku khawatir bila shalat malam itu ditetapkan sebagai kewajiban atas kalian.” (HR Bukhari 687). Sumber: http://www.indoquran.com/index.php?surano=10&ayatno=120&action=display&option=com_bukhari

        Begitu juga kita dapat ambil pelajaran dari apa yang terjadi dengan kaum Nasrani

        ‘Adi bin Hatim pada suatu ketika pernah datang ke tempat Rasulullah –pada waktu itu dia lebih dekat pada Nasrani sebelum ia masuk Islam– setelah dia mendengar ayat yang artinya, “Mereka menjadikan orang–orang alimnya, dan rahib–rahib mereka sebagai tuhan–tuhan selain Allah, dan mereka (juga mempertuhankan) al Masih putera Maryam. Padahal, mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.“ (QS at Taubah [9] : 31) , kemudian ia berkata: “Ya Rasulullah Sesungguhnya mereka itu tidak menyembah para pastor dan pendeta itu“. Maka jawab Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Betul! Tetapi mereka (para pastor dan pendeta) itu telah menetapkan haram terhadap sesuatu yang halal, dan menghalalkan sesuatu yang haram, kemudian mereka mengikutinya. Yang demikian itulah penyembahannya kepada mereka.” (Riwayat Tarmizi)

        Bid’ah dholalah adalah perbuatan syirik karena penyembahan kepada selain Allah.
        Bid’ah dholalah adalah perbuatan yang tidak ada ampunannya.

        Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda

        إِنَّ اللهَ حَجَبَ اَلتَّوْبَةَ عَنْ صَاحِبِ كُلِّ بِدْعَةٍ

        “Sesungguhnya Allah menutup taubat dari semua ahli bid’ah”. [Ash-Shahihah No. 1620]

        Firman Allah ta’ala yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu dan janganlah kamu melampaui batas, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas.” (Qs. al-Mâ’idah [5]: 87).

        Sekarang telah mulai tampak ahli bid’ah bermunculan. Mereka membuat perkara baru (bid’ah) pada perkara yang merupakan hak Allah ta’ala menetapkannya.

        Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban (ditinggalkan berdosa), maka jangan kamu sia-siakan dia; dan Allah telah memberikan beberapa batas/larangan (dikerjakan berdosa), maka jangan kamu langgar dia; dan Allah telah mengharamkan sesuatu (dikerjakan berdosa), maka jangan kamu pertengkarkan dia; dan Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia.” (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi).

        Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Tidak tertinggal sedikitpun  yang mendekatkan kamu dari surga dan menjauhkanmu dari neraka melainkan telah dijelaskan bagimu ” (HR Ath Thabraani dalam Al Mu’jamul Kabiir no. 1647)

        “mendekatkan dari surga” = kewajiban (ditinggalkan berdosa)
        “menjauhkan dari neraka” = larangan , pengharaman (dikerjakan berdosa)

        Jika ulama berfatwa dalam perkara kewajiban (ditinggalkan berdosa), perkara larangan (dikerjakan berdosa) dan perkara pengharaman (dikerjakan berdosa) wajib berlandaskan dengan apa yang telah ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla

        Mufti Mesir Profesor Doktor Ali Jum`ah, salah seorang ulama bermazhab,  berjuang keras menentang kewajiban (ditinggalkan berdosa) menggunakan Niqab ( Cadar / Purdah) atau penutup muka bagi kaum perempuan.

        Mufti menegaskan : ” bawah fatwa yang di keluarkan oleh Lembaga Fatwa Mesir dan Lembaga Riset Islam yang terdiri dari ulama besar di seluruh dunia menyatakan bahwa wajah dan telapak tangan bukan termasuk auratnya perempuan, sebagaimana juga pendapat mayoritas ulama Islam dari mazhab Hanafi, Maliki, Syafi`i, dan Hanbali mengatakan bahwa pendapat yang sahih adalah muka dan telapak tangan tidak termasuk aurat “.

        Penggunaan Niqab ( Cadar / Purdah) adalah sebuah kebiasaan dan bukan perkara kewajiban dalam arti jika ditinggalkan berdosa. Allah ta’ala maupun RasulNya tidak pernah menyampaikan adanya kewajiban penggunaan Niqab ( Cadar / Purdah).  Andaikan itu sebuah kewajiban maka akan bertentangan dengan larangan menutup muka ketika ihram bagi kaum wanita. Adalah hal yang mustahil dalam perkara syariat ada yang saling bertentangan.

        Firman Allah Azza wa Jalla,

        أَفَلاَ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ اخْتِلاَفاً كَثِيراً

        Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an ? Kalau kiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS An Nisaa 4 : 82)

        Sebagaimana pula yang dikatakan oleh Imam Malik ra di atas bahwa kita jangan pula mengambil ilmu dari orang yang mendustakan perkataan manusia, meskipun dia tidak mendustakan hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

        Contohnya  mereka mendustakan maksud perkataan Syeikh Al Islam Izzuddin bin Abdissalam. Dimana dalam kumpulan fatwa beliau, Kitab Al Fatawa (hal. 46, 47), beliau menyatakan,”Bersalaman setelah shubuh dan ashar bagian dari bid’ah-bid’ah. Kecuali bagi orang yang datang dan berkumpul dengan orang yang menyalaminya sebelum shalat. Sesungguhnya bersalaman disyariatkan ketika bertemu.

        Istilah bid’ah menurut Imam Izzuddin berbeda dengan istilah yang dipakai oleh mereka yang menilai bahwa seluruh bid’ah adalah sesat.  Dimana Imam Izzuddin berpendapat bahwa bid’ah terbagi menjadi dalam hukum lima, wajib, sunnah, makruh, haram dan mubah, seperti yang termaktub dalam kitab beliau Qawaid Al Ahkam (2/337-339). Sehingga, ketika Imam Izzuddin menyatakan bahwa bersalaman pada dua waktu itu termasuk bid’ah tidak otomatis merupakan hal yang haram.

        Sebaliknya, dalam Qawaid Al Ahkam (2/339), dengan cukup gamblang Imam Izzuddin menyatakan bahwa bersalaman setelah ashar dan shubuh merupakan bid’ah mubah. Ketika Imam Izzudin menjelaskan pembagian bid’ah sesaui dengan hukum lima bersama contohnya, beliau menjelaskan bid’ah mubah,”Dan bagi bid’ah-bid’ah mubah, contoh-contohnya bersalaman setelah shubuh dan ashar.”

        Hal ini juga dinukil juga oleh Imam An Nawawi dalam Tahdzib Al Asma wa Al Lughat (3/22), serta Al Adzkar dalam Al Futuhat Ar Rabaniyah (5/398) dengan makna yang sama. Sehingga siapa saja tidak bisa memaksa istilah Imam Izzuddin untuk dimaknai sesuai dengan istilah pihak yang menyatakan seluruh bid’ah adalah sesat.

        Nah, hal ini sudah cukup menunjukkan bahwa maksud pernyataan Imam Izzuddin dalam fatwa itu adalah bid’ah mubah. Dan pemahaman para ulama yang mu’tabar semakin mengukuhkan kesimpulan itu, diantara para ulama yang memiliki kesimpulan serupa adalah:

        Imam An Nawawi
        Imam An Nawawi menyatakan dalam Al Majmu’ (3/459),”Adapun bersalaman yang dibiasakan setelah shalat shubuh dan ashar saja telah menyebut  As Syeikh Al Imam Abu Muhammad bin Abdis Salam rahimahullah Ta’ala,’Sesungguhnya hal itu bagian dari bid’ah-bid’ah mubah, tidak bisa disifati dengan makruh dan tidak juga istihbab (sunnah).’ Dan yang beliau katakan ini baik.”

        Imam An Nawawi (631-676 H) sendiri merupakan ulama yang hidup semasa dengan Syeikh Izzuddin (578-660) dan dua-duanya adalah ulama Syam, hingga beliau faham benar pernyataan Imam Izzuddin. Dengan demikian kesimpulan beliau tentang pernyataan Imam Izzuddin amat valid.

        Lebih dari itu, Imam An Nawawi adalah ulama Syafi’iyah yang paling memahami perkataan Imam As Syafi’i dan ulama-ulama madzhabnya sebagaimana disebut dalam Al Awaid Ad Diniyah (hal. 55). Sehingga, jika ada seseorang menukil pendapat ulama As Syafi’iyah dengan kesimpulan berbeda dengan pendapat Imam An Nawawi tentang ulama itu maka pendapat itu tidak dipakai. Lebih-lebih yang menyatakan adalah pihak yang tidak memiliki ilmu riwayah dan dirayah dalam madzhab As Syafi’i.

        Mufti Diyar Al Hadrami Ba Alawi
        Ba Alawi mufti As Syafi’iyah Yaman, dalam kumpulan fatwa beliau Bughyah Al Mustrasyidin (hal. 50) juga menyebutkan pula bahwa Imam Izzuddin memandang masalah ini sebagai bid’ah mubah sebagaimana pemahaman Imam An Nawawi,”Berjabat tangan yang biasa dilakukan setelah shalat shubuh dan ashar tidak memiliki asal baginya dan telah menyebut Ibnu Abdissalam bahwa hal itu merupakan bid’ah-bid’ah mubah.”

        As Safarini Al Hanbali
        Bukan hanya ulama As Syafi’iyah saja yang memahami istilah khusus yang digunakan oleh Imam Izuddin. Meskipun As Safarini seorang ulama madzhab Hanbali,  beliau memahami bahwa Imam Izzuddin menyatakan masalah ini sebagai bi’dah mubah. Tertulis dalam Ghidza Al Albab (1/235), dalam rangka mengomentari pernyataan Ibnu Taimiyah yang menyebutkan bahwa berjabat tangan di dua waktu tersebut adalah bid’ah yang tidak dilakukan oleh Rasul dan tidak disunnahkan oleh seorang ulama sekalipun, ”Aku berkata, dan yang dhahir (jelas) dari pernyataan Ibnu Abdissalam dari As Syafi’iyah bahwa sesungguhnya hal itu adalah bid’ah mubah”

        Dengan demikian pendapat pihak yang menyebut bahwa Imam Izzuddin menghukumi haram berjabat tangan setelah shalat ashar dan shubuh hanya bersandar dari sebutan “bid’ah” dari beliau adalah kesimpulan yang jauh dari kebenaran. Hal ini disebabkan mereka tidak memahami bahwa Imam Izzudin memiliki istilah yang berbeda dengan istilah mereka. Sehingga pemahaman mereka tentang pernyataan Imam Izzuddin pun bertentangan pula dengan pemahaman para ulama mu’tabar. Allahu Ta’ala A’la wa A’lam

        Oleh karenanya marilah kita kembali mengambil ilmu dari para ulama bermazhab. Ditengarai kaum Zionis Yahudi berkeingingan meruntuhkan Ukhuwah Islamiyyah dengan cara ghazwul fikri (perang pemahaman) melalui pusat-pusat kajian Islam yang mereka didirikan.

        Dalam tulisan kami pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/26/bukti-korban/ telah kami uraikan hasil analisa kami bahwa empat gerakan yang dilancarkan oleh kaum Zionis Yahudi

        1. Paham anti mazhab, umat muslim diarahkan untuk tidak lagi mentaati pimpinan ijtihad atau imam mujtahid alias Imam Mazhab
        2. Pemahaman secara ilmiah, umat muslim diarahkan untuk memahami Al Qur’an dan As Sunnah dengan akal pikiran masing-masing dengan metodologi “terjemahkan saja”  hanya memandang dari sudut bahasa (lughat) dan istilah (terminologis) namun kurang memperhatikan  nahwu, shorof, balaghoh, makna majaz, dll
        3. Paham anti tasawuf untuk merusak akhlak kaum muslim karena tasawuf adalah tentang Ihsan atau jalan menuju muslim yang Ihsan
        4. Paham Sekulerisme, Pluralisme, Liberalisme (SEPILIS) disusupkan kepada umat muslim yang mengikuti pendidikan di “barat” .

        Contoh bukti korban ghazwul fikri adalah adanya yang memahami ayat-ayat mutasyabihat secara harfiah / dzahir  atau memahami dengan metodologi “terjemahkan saja” hanya memandang dari sudut bahasa (lughat) dan istilah (terminologis) namun kurang memperhatikan  nahwu, shorof, balaghoh, makna majaz, dll

        Imam Ahmad ar-Rifa’i (W. 578 H/1182 M) dalam kitabnya al-Burhan al-Muayyad, “Sunu ‘Aqaidakum Minat Tamassuki Bi Dzahiri Ma Tasyabaha Minal Kitabi Was Sunnati Lianna Dzalika Min Ushulil Kufri”, “Jagalah aqidahmu dari berpegang dengan dzahir ayat dan hadis mutasyabihat, karena hal itu salah satu pangkal kekufuran”.

        Imam besar ahli hadis dan tafsir, Jalaluddin As-Suyuthi dalam “Tanbiat Al-Ghabiy Bi Tabriat Ibn ‘Arabi” mengatakan “Ia (ayat-ayat mutasyabihat) memiliki makna-makna khusus yang berbeda dengan makna yang dipahami oleh orang biasa. Barangsiapa memahami kata wajh Allah, yad , ain dan istiwa sebagaimana makna yang selama ini diketahui (wajah Allah, tangan, mata, bertempat), ia kafir secara pasti.”

        Sayyidina Ali Ibn Abi Thalib ra  berkata : “Sebagian golongan dari umat Islam ini ketika kiamat telah dekat akan kembali menjadi orang-orang kafir.
        Seseorang bertanya kepadanya : “Wahai Amirul Mukminin apakah sebab kekufuran mereka? Adakah karena membuat ajaran baru atau karena pengingkaran?”
        Sayyidina Ali Ibn Abi Thalib ra menjawab : “Mereka menjadi kafir karena pengingkaran. Mereka mengingkari Pencipta mereka (Allah Subhanahu wa ta’ala) dan mensifati-Nya dengan sifat-sifat benda dan anggota-anggota badan.” (Imam Ibn Al-Mu’allim Al-Qurasyi (w. 725 H) dalam Kitab Najm Al-Muhtadi Wa Rajm Al-Mu’tadi)

        Ironis sekali, mereka selalu meneriakkan dakwah tauhid memerangi kesyirikan namun pada kenyataannya mereka dapat terjerumus ke dalam kesyirikan. Untuk itulah kami berupaya meluruskan kesalahpahaman-kesalahpahaman mereka karena Allah ta’ala semata dengan semangat persaudaraan sesama muslim. Semoga Allah ta’ala memberikan hidayah kepada kita semua dan terhindar dari kesyirikan karena kesalahpahaman.
        Wassalam

         

        Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830

         

        Note: tulisan kami sebagian terinspirasi dari http://almanar.wordpress.com/2011/10/08/imam-izzuddin-haramkan-salaman-setelah-shalat/

        Kenapa Kami merayakan maulid

        Kenapa Kami merayakan maulid????  Bahkan wahabi menentang keras meskipun dengan dalil yg didasari pemahaman yg sempit tentang hadist……….(oleh http://www.facebook.com/muhammad.bakhit)
        Ini alasan kami1. Rasulullah SAAW memperingati Hari Maulidnya dengan jalan puasasetiap hari Senin sebagai tanda syukur kepada Allah SWT.

        … Dalam Shahih Muslim rhm diriwayatkan hadits Abi Qutadah ra. Bahwasanya Rasulullah SAAW pernah ditanya tentang puasa hari senin, beliau SAAW menjawab : “Dzalika yaumun wulidtu fiihi, wa yaumun bu itstu fiihi, aw unzila ‘alayya fiihi.”

        2. Perayaan Maulid Nabi SAAW adalah ungkapan kegembiraan dankebahagiaan dengan keberadaan Rasulullah SAAW.

        Dalam Surah Yunus : 58, Allah SWT memerintahkan kita untuk senang dan gembira dengan rahmatNya SWT : “Qul bifadhlillahi wa birohmatihi fabidzalika falyafrohuu.”, dan Rasulullah SAAW merupakan rahmat besardari Allah SWT untuk kita bahkan untuk semesta alam, firmanNya dalam Surah Al Anbiya’ : 107 : “Wa maa arsalnaka illa rohmatan lil ‘alamiin.”

        3. Kegembiraan dengan kelahiran Rasulullah SAAW memiliki manfaat khusus bagi setiap muslim.

        Dalam Shahih Buhkari rhm diceritakan sebuah kisah mimpi ‘Abbas ra, paman Rasulullah SAAW, tentang peringanan azab atas Abu Lahab setiap hari Senin, karena dia di masa hidupnya pernah gembira menyambut kelahirankeponakannya, Muhammad ibni Abdillah, dengan memerdekakan budaknya bernama Tsuwaibah.

        Karenanya Al Hafidz Syamsuddin Muhammad bin Nashiruddin Ad Dimsyqi rhm membuat sya’ir :

        Idzaa kaa na Hadzaa kaafiron jaa ‘a dzammuhu

        Bi tabbat yadaahu fil jahiimi mukholladaa

        Ataa annahu fii yaumil itsnaini daa ‘iman

        Yukhoffafu ‘anhu lissuruuri bi ‘ahmadaa

        Famadzh dzhonnu bil ‘abdil ladzii kaa na ‘umruhu

        Bi ‘ahmada masruuron wa maa ta muwahhadaa

        4. Perayaan Maulid Nabi SAAW adalah Media Da’wah untuk memaparkan kembali sejarah kehidupan dan perjuangan Rasulullah SAAW, mendorong umat Islam agar Cinta Rasulullah SAAW dan mau mensuritauladaninya, sekaligus membiasakan umat bershalawat untuk Rasulullah SAAW, sehingga menjadi peneguh hati kaum muslimin.

        Dalam Surah Huud : 120, Allah SWT memberitakan dan menjelaskan bahwasanya kisah para Rasul dalam Al Qur’an untuk meneguhkan hati Rasulullah SAAW. FirmanNya SWT : “Wa kulla naqushshu ‘alaika min ‘anbiyaa’ir rusuli maa nutsabbitu bihi fu’aa daka.”

        5. Perayaan Maulid Nabi SAAW adalah Upaya menghidupkan Napak Tilas Pejuangan Rasulullah SAAW.

        Menghidupkan kenangan perjuangan orang-orang shaleh adalah sesuatu yangdisyariatkan dalam Islam. Lihatlah berbagai perbuatan ibadah dalam Manasik Haji merupakan napak tilas dari berbagai peristiwa religius bersejarah dalam kehidupan Nabi Ibrahim kholilullah dan Sayyidati Hajar as serta putra mereka Nabi Isma’il as.

        6. Rasulullah SAAW menyukai dan memuji orang lain yang mencintai dan memujinya.

        Rasulullah SAAW memuji dan membalas dengan berbagai kebaikan hubungan dengan para penyair dizamannya yang membuat sya’ir-sya’ir yang memuji kehidupan dan perjuangan Rasulullah SAAW, seperti Hasan bin Tsabit ra. Maka bisa dipastikan bahwasanya Rasulullah SAAW akan sangat ridho’ dan menyukai mereka yang menghimpun dan menyebarluaskan sejarah kehidupan dan perjuangan Rasulullah SAAW, seperti yang dilakukan para ‘Ulama melalui kitab-kitab Maulid yang dibaca saat perayaan Maulid Nabi SAAW.

        7. Rasulullah SAAW memiliki perhatian dan kepedulian terhadap hubungan antara tempat dengan peristiwa religius bersejarah, bahkan beliau ikut membesarkannya.

        Dalam hadits Syaddaad bin ‘Aus ra yang diriwayatkan oleh Al Bazzaar, Abu Ya’laa, dan Ath Thabrani, bahwasanya tatkala Rasulullah SAAW Isra’ dan Mi’raj, beliau diajak mampir oleh Jibril as ke Baitul Lahm dan Shalat dua raka’at disana, lalu Jibril as bertanya apakah Rasulullah SAAW tahu tempat apa itu, beliaupun menjawab tidak tahu, maka Jibril as memberitahukannya : “Shollaita baitul lahmin haytsu wulida ‘isaa.”

        8. Rasulullah SAAW memiliki perhatian dan kepedulian terhadap hubungan antara zaman dengan peristiwa religius bersejarah, bahkan beliau ikut membesarkannya.

        Dalam Shahih Bukhari dan Muslim diceritakan bahwa tatkala Rasulullah SAAW mendapatkan kaum Yahudi berpuasa dan bergembira pada Hari ‘Asyura (10 Muharram) untuk merayakan kemenangan Nabi Musa as atas Fir’aun, maka beliau bersabda : “Nahnu aulaa bimuusaa minkum”, beliau pun berpuasa di hari itu dan mengenjurkan umatnya untuk berpuasa ‘Asyura.

        Selain itu, masih ada hadits lain dimana Rasullullah SAW menyebutkankeistimewaan Hari Jum’at sebagai hari penciptaan Nabi Adam as dan juga hari kelahiran para Nabi dan Rasul selain beliau SAAW.

        Semua itu sesuai dengan tuntunan Al Qur’an yang mengkhabarkan tentanglimpahan kesejahteraan bagi hari kelahiran para Nabi. Dalam Surah Maryam : 15 tentang Nabi Yahya as : “Wa salaamun ‘alaihi yauma wulida wa yauma yamuutu wa yauma yub’atsu hayyan,” dan 33 tentang Nabi ‘Isa as : “Was salaamu ‘alayya yauma wulidtu wa yauma amuutu wa yauma ub’atsu hayyaa.”

        9. Para ‘Ulama terkemuka yang terkenal istiqomah dari zaman ke zaman dan dari berbagai madzhab serta dari berbagai negeri telah menjadikan Peringatan Maulid Nabi SAAW sebagai sesuatu yangMustahsan yaitu suatu perbuatan yang dipandang baik.

        Nabi SAAW menjamin umatnya tidak akan sepakat dalam kesesatan: “Lan tajtami’a ummatiy ‘aladh dhoolaa lati.”

        Apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin, apalagi para ‘Ulamanya maka ia baik : “Hasanuhu hasan wa qobihuhu qobih.” Dalam Musnad Ahmad sebuah hadits mauquf dari Abdullah bin Mas’ud ra berbunyi : “Maa roohul muslimuuna hasanan fahuwa ‘indallaahi hasanun, wa maa roohul muslimuuna qobiihan fahuwa ‘indallaahi qobiihun.”

        Sedang dalam Shahih Muslim ada sebuah hadits lagi yang mempertegas permasalahan : “Man sanna fil islaami sunnatan hasanatan falahu ajruhaa, wa ajru man ‘amila biha min ba’dihi, man ghoiri ay yanqusho min ujuu rihim syai’un.”

        10. peringatan Maulid Nabi SAAW secara eksplisit dalam bentuk perayaan besar-besaran, memang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW, tapi bukan berarti sebagai Bid’ah dholalah melainkan sebagai Bid’ah Hasanah.

        Para Sahabat ra pernah melakukan apa yang tidak pernah dilakukan Rasulullah SAAW :

        a. Abu Bakar ra dan ‘Umar ra menghimpun Al Qur’an dan membuat mushafnya.

        b. ‘Utsman ra memperbanyak mushaf Al Qur’an dan mengirimnya ke berbagai wilayah.

        c. ‘Umar ra menghimpun kaum muslimin di bawah satu Imam dalam Shalat Tarawih, dan beliau berkata : “Ni’amatil bid’ati hadzihi”

        d. dll.

        Imam Syafi’i ra sebagai salah seorang ‘Ulama Salaf terkemuka menyatakan :

        “Maa ahdatsa wa khoolafa kitaaban aw sunnatan aw ijmaa’an aw atsaron fahuwal bid’atudh dhoollah, wa maa ahdatsa minal khoiri wa lam yukhoolifu syai’an min dzalik, fahuwal mahmuud”

        Karenanya, para ‘ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah sepakat mengikat kataBid’ah dalam hadits : “Kullu bid’atin dholaalatun” dengan ikatan taqdiirul kalam “Bid’atun sayyi’atun,” Wallahu a’lam

        Bagaikan meluncurnya anak panah dari busurnya

        Dalam  beberapa tulisan berturut-turut, kami telah menghimbau untuk  menggigit  As Sunnah dan sunnah Khulafaur Rasyidin berdasarkan pemahaman  pemimpin  ijtihad (Imam Mujtahid) / Imam Mazhab dan penjelasan dari para   pengikut Imam Mazhab sambil merujuk darimana mereka me…ngambil yaitu Al   Quran dan as Sunnah.  Janganlah memahaminya dengan akal pikiran sendiri   atau mengikut pemahaman ulama yang tidak dikenal berkompetensi sebagai   Imam Mujtahid Mutlak. Hal ini telah kami uraikan dalam tulisan pada   http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/31/gigitlah-as-sunnah/ .

        Sebaiknya   kita mengambil ilmu dari mulut ulama bermazhab dan sholeh. Hal ini   telah kami uraikan dalam tulisan pada   http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/11/02/dari-mulut-ulama/

        Kita  sebaiknya menghindari kitab ulama yang belajar sendiri dan tidak   bermazhab hal ini telah kami uraikan dalam tulisan pada   http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/11/03/kitab-tidak-bermazhab/

        Contoh ulama yang belajar sendiri dan tidak lagi bermazhab adalah ulama Ibnu Taimiyyah

        Tentulah  ulama Ibnu Taimiyyah tidak belajar tanpa guru sama sekali.  Namun  beliau lebih bersandar kepada belajar sendiri (otodidak) dengan   muthola’ah (menelaah kitab).

        Para ulama menyampaikan  ilmu agama tidak diambil dari “Muthola’ah”  (menelaah kitab) semata  dengan mengesampingkan “Talaqqi” (mengaji)  kepada Ahl Al Ma’rifah Wa Al  Tsiqoh (ahli pengetahuan khushush dan dapat  dipercaya) dikarenakan  terkadang dalam beberapa kitab terjadi  “penyusupan” dan “pendustaan”  atas nama agama atau terjadi pemahaman  yang berbeda dengan pengertian  para “salaf” maupun “kholaf” sebagaimana  mereka (para ulama) saling  memberi dan menerima ilmu agama dari satu  generasi ke generasi lainnya  maka pemahaman yang berbeda dengan ulama  salaf maupun kholaf itu dapat  berakibat kepada pelaksanaan “Ibadah  fasidah” (ibadah yang rusak) atau  dapat menjerumuskan kedalam  “Tasybihillah Bikholqihi” (penyerupaan  Allah dengan makhluq Nya) atau  implikasi negative lainnya.

        Kita  sudah paham bahwa Ibnu Taimiyah pernah terjerumus ke dalam   “Tasybihillah Bikholqihi” (penyerupaan Allah dengan makhluq Nya) karena   menelaah kitab berdasarkan akal pikiran dia sendiri. Namun sebelum dia   wafat , dia sempat bertobat akan kesalahpahamannya.  http://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2010/04/taimiyahtobat.pdf

        Penjelasan  keterjerumusan beliau ke dalam “Tasybihillah Bikholqihi” dijelaskan  dalam  http://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2010/02/ahlussunnahbantahtaimiyah.pdf

        Contoh keterjerumusan mereka ke dalam “Tasybihillah Bikholqihi” (penyerupaan Allah dengan makhluq Nya)

        Berikut dua ulama yang memahami hadits Rasulullah yang artinya, “Tidak ada bayangan kecuali bayangan yang diciptakan oleh Allah”

        Ulama pertama berpendapat, “Benar  (Allah punya bayangan),  sebagaimana itu disebutkan dalam hadits.  tetapi kita tidak tahu tata  cara dari seluruh sifat-sifat Allah  lainnya, pintunya jelas satu bagi  Ahlussunnah Wal Jama’ah (yaitu  itsbat/menetapkan saja)”. Sumber: http://ww.binbaz.org.sa/mat/4234
        Kesimpulan ulama ini adalah “Allah memiliki bayangan yang sesuai bagi-Nya”

        Ulama kedua berpendapat, “Sabda Rasulullah “La Zhilla Illa Zhilluh” artinya “Tidak ada bayangan kecuali bayangan yang diciptakan oleh Allah”. “Makna   hadits ini bukan seperti yang disangka oleh sebagian orang bahwa   bayangan tersebut adalah bayangan Dzat Allah, ini adalah pendapat batil   (sesat), karena dengan begitu maka berarti matahari berada di atas   Allah. Di dunia ini kita membuat bayangan bagi diri kita, tetapi di hari   kiamat tidak akan ada bayangan kecuali bayangan yang diciptakan oleh   Allah supaya berteduh di bawahnya orang-orang yang dikehendaki oleh-Nya   dari para hamba-Nya”.
        Ulama kedua telah membedakan antara  terjemahan dengan makna yang  lebih sesuai bagi Allah Azza wa Jalla,  daripada ulama pertama yang  berpendapat bahwa Allah memliki bayangan  yang sesuai bagi-Nya.

        Metodologi pemahaman yang  dipergunakan oleh ulama pertama yang kami  sebut dengan metodologi  “terjemahkan saja” atau memahami secara  harfiah/dzahir nya  nash/lafazh/tulisan.

        Metodologi “terjemahkan saja” akan menemukan kesulitan pula dalam memahami contohnya perkataan Rasulullah yang artinya “Sesungguhnya pintu-pintu surga terletak di bawah bayangan pedang” (HR Muslim 3521)  Sumber: http://www.indoquran.com/index.php?surano=34&ayatno=133&action=display&option=com_muslim

        Apa yang dialami oleh ulama yang pertama terjadi juga dengan ulama yang lainnya ketika mereka memahami
        Allah berfirman yang artinya : “Hai  iblis, apakah yang  menghalangi kamu sujud kepada yang telah  Ku-ciptakan dengan kedua  tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri  ataukah kamu (merasa) termasuk  orang-orang yang (lebih) tinggi?”. (Surat Shaad: 75)
        Sesungguhnya abu Hurairoh ra telah berkata telah bersabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam “Allah   Azza wa Jalla menggenggam bumi pada hari kiamat dan melipat   (menggulung) langit (dalam riwayat lain: langit-langit) dengan tangan   kanan-Nya”, kemudian Allah Azza wa Jalla berkata: “Akulah raja! Manakah raja-raja bumi (dunia)?”. (Hadits shahih riwayat. Bukhari no. 4812,6519,7382 & 7413 dan muslim no. 2787 )
        Dari Abdullah bin ‘Amr r.a ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah bersabda: “Sesungguhnya   orang-orang yang adil di sisi Allah Azza wa Jalla (pada hari kiamat)  di  atas mimbar-mimbar dari nur (cahaya) di sebelah kanan Ar Rahman dan   kedua tangan-Nya adalah kanan. Yaitu orang-orang yang berlaku adil di   dalam hukum mereka, dan pada kelaurga mereka, dan pada apa yang mereka   pimpin”. (Hadits shahih riwayat. Muslim no 1827 dan Nasaa-i no 5379
        Kesimpulan mereka adalah “Allah ta’ala mempunyai kedua tangan dan kedua tangan Allah ta’ala adalah kanan“   Hal ini disampaikan contohnya pada  http://moslemsunnah.wordpress.com/2010/03/29/benarkah-kedua-tangan-allah-azza-wa-jalla-adalah-kanan/

        Silahkan saksikan video pada http://www.youtube.com/watch?v=CaT4wldRLF0  mulai pada menit ke 03 detik 15
        I’tiqod  mereka bahwa Allah ta’ala punya tangan namun mereka tambahkan  bahwa  tangan Allah ta’ala tidak serupa dengan tangan makhluk.

        Berikut transkriptnya,
        “Ya sudah kalau kita apa, misalkan tangan Allah, ya sudah itu tangan Allah
        Allah punya tangan akan tetapi apakah tangan Allah seperti tangan makhluk ? tidak.
        Sedangkan  sama sama makhluknya Allah subhanahu wa ta’ala, kaki gajah  dengan kaki  semut ndak sama. Sama-sama kaki namanya. Kaki meja dengan  kaki kamera  ini yang untuk tahan sandaran ini, ndak sama.
        Apalagi  tangan Allah subhanahu wa ta’ala dengan tangan makhluknya ndak  sama  karena Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman “Laisa kamitslihi  syai’un  wahuwa samii’u bashiir” tidak ada yang sama dengan Allah  subhanahu wa  ta’ala, apapun di dunia ini, adapun kalau sama namanya ndak  sama  bentuknya dan rupanya.”

        Begitupula seorang ustadz  mengatasnamakan pemahamannya terhadap  lafaz/tulisan ulama salaf sebagai   ijmak para ulama tentang keberadaan  Allah di atas langit

        http://www.firanda.com/index.php/artikel/bantahan/76-mengungkap-tipu-muslihat-abu-salafy-cs

        Beliau adalah pengikut ulama Ibnu Taimiyyah dimana tesis S2 beliau berjudul “Jawaban   Ibnu Taimiyyah terhadap syubhat-syubhat terperinci yang berkaitan   dengan sifat-sifat Allah dzatiyah yang dilontarkan oleh para penolak   sifat”

        Bandingkan pendapat mereka dengan pendapat  pemimpin ijtihad kaum muslim (imam mujtahid / imam mazhab) seperti Imam  Syafi’i ~rahimahullah

        Imam asy-Syafi’i berkata:
        إنه  تعالى كان ولا مكان فخلق المكان وهو على صفة الأزلية كما كان قبل  خلقه  المكان ولا يجوز عليه التغير في ذاته ولا التبديل في صفاته (إتحاف  السادة  المتقين بشرح إحياء علوم الدين, ج 2، ص 24)
        “Sesungguhnya Allah  ada tanpa permulaan dan tanpa tempat.  Kemudian Dia menciptakan tempat,  dan Dia tetap dengan sifat-sifat-Nya  yang Azali sebelum Dia menciptakan  tempat tanpa tempat. Tidak boleh  bagi-Nya berubah, baik pada Dzat  maupun pada sifat-sifat-Nya” (LIhat az-Zabidi, Ithâf as-Sâdah al-Muttaqîn…, j. 2, h. 24).

        Dalam  salah satu kitab karnya; al-Fiqh al-Akbar[selain Imam Abu  Hanifah;  Imam asy-Syafi'i juga menuliskan Risalah Aqidah Ahlussunnah  dengan  judul al-Fiqh al-Akbar], Imam asy-Syafi’i berkata:
        واعلموا أن الله  تعالى لا مكان له، والدليل عليه هو أن الله تعالى كان  ولا مكان له فخلق  المكان وهو على صفته الأزلية كما كان قبل خلقه المكان، إذ  لا يجوز عليه  التغير في ذاته ولا التبديل في صفاته، ولأن من له مكان فله  تحت، ومن له  تحت يكون متناهي الذات محدودا والحدود مخلوق، تعالى الله عن  ذلك علوا  كبيرا، ولهذا المعنى استحال عليه الزوجة والولد لأن ذلك لا يتم  إلا  بالمباشرة والاتصال والانفصال (الفقه الأكبر، ص13)
        “Ketahuilah  bahwa Allah tidak bertempat. Dalil atas ini adalah  bahwa Dia ada tanpa  permulaan dan tanpa tempat. Setelah menciptakan  tempat Dia tetap pada  sifat-Nya yang Azali sebelum menciptakan tempat,  ada tanpa tempat.  Tidak boleh pada hak Allah adanya perubahan, baik pada  Dzat-Nya maupun  pada sifat-sifat-Nya. Karena sesuatu yang memiliki  tempat maka ia pasti  memiliki arah bawah, dan bila demikian maka mesti  ia memiliki bentuk  tubuh dan batasan, dan sesuatu yang memiliki batasan  mestilah ia  merupakan makhluk, Allah Maha Suci dari pada itu semua.  Karena itu pula  mustahil atas-Nya memiliki istri dan anak, sebab perkara  seperti itu  tidak terjadi kecuali dengan adanya sentuhan, menempel, dan  terpisah,  dan Allah mustahil bagi-Nya terbagi-bagi dan terpisah-pisah.  Karenanya  tidak boleh dibayangkan dari Allah adanya sifat menempel dan  berpisah.  Oleh sebab itu adanya suami, istri, dan anak pada hak Allah  adalah  sesuatu yang mustahil” (al-Fiqh al-Akbar, h. 13).

        Pada  bagian lain dalam kitab yang sama tentang firman Allah QS.  Thaha: 5  (ar-Rahman ‘Ala al-‘Arsy Istawa), Imam asy-Syafi’i berkata:
        إن هذه  الآية من المتشابهات، والذي نختار من الجواب عنها وعن أمثالها  لمن لا  يريد التبحر في العلم أن يمر بها كما جاءت ولا يبحث عنها ولا يتكلم  فيها  لأنه لا يأمن من الوقوع في ورطة التشبيه إذا لم يكن راسخا في العلم،  ويجب  أن يعتقد في صفات الباري تعالى ما ذكرناه، وأنه لا يحويه مكان ولا  يجري  عليه زمان، منزه عن الحدود والنهايات مستغن عن المكان والجهات، ويتخلص  من  المهالك والشبهات (الفقه الأكبر، ص 13)
        “Ini termasuk ayat  mutasyâbihât. Jawaban yang kita pilih tentang  hal ini dan ayat-ayat  yang semacam dengannya bagi orang yang tidak  memiliki kompetensi di  dalamnya adalah agar mengimaninya dan tidak  –secara mendetail–  membahasnya dan membicarakannya. Sebab bagi orang  yang tidak kompeten  dalam ilmu ini ia tidak akan aman untuk jatuh dalam  kesesatan tasybîh.  Kewajiban atas orang ini –dan semua orang Islam–  adalah meyakini bahwa  Allah seperti yang telah kami sebutkan di atas,  Dia tidak diliputi oleh  tempat, tidak berlaku bagi-Nya waktu, Dia Maha  Suci dari  batasan-batasan (bentuk) dan segala penghabisan, dan Dia tidak   membutuhkan kepada segala tempat dan arah, Dia Maha suci dari kepunahan   dan segala keserupaan” (al-Fiqh al-Akbar, h. 13).

        Secara  panjang lebar dalam kitab yang sama, Imam asy-Syafi’i membahas  bahwa  adanya batasan (bentuk) dan penghabisan adalah sesuatu yang  mustahil  bagi Allah. Karena pengertian batasan (al-hadd; bentuk) adalah  ujung  dari sesuatu dan penghabisannya. Dalil bagi kemustahilan hal ini  bagi  Allah adalah bahwa Allah ada tanpa permulaan dan tanpa bentuk, maka   demikian pula Dia tetap ada tanpa penghabisan dan tanpa bentuk. Karena   setiap sesuatu yang memiliki bentuk dan penghabisan secara logika dapat   dibenarkan bila sesuatu tersebut menerima tambahan dan pengurangan,  juga  dapat dibenarkan adanya sesuatu yang lain yang serupa dengannya.   Kemudian dari pada itu “sesuatu” yang demikian ini, secara logika juga   harus membutuhkan kepada yang menjadikannya dalam bentuk dan batasan   tersebut, dan ini jelas merupakan tanda-tanda makhluk yang nyata   mustahil bagi Allah.

        Begitu pula pendapat para pengikut Imam Mazhab

        Imam  Ahmad ar-Rifa’i (W. 578 H/1182 M) dalam kitabnya al-Burhan  al-Muayyad,  “Sunu ‘Aqaidakum Minat Tamassuki Bi Dzahiri Ma Tasyabaha  Minal Kitabi  Was Sunnati Lianna Dzalika Min Ushulil Kufri”, “Jagalah  aqidahmu dari  berpegang dengan dzahir ayat dan hadis mutasyabihat,  karena hal itu  salah satu pangkal kekufuran”.

        Imam besar ahli hadis  dan tafsir, Jalaluddin As-Suyuthi dalam  “Tanbiat Al-Ghabiy Bi Tabriat  Ibn ‘Arabi” mengatakan “Ia (ayat-ayat  mutasyabihat) memiliki  makna-makna khusus yang berbeda dengan makna yang  dipahami oleh orang  biasa. Barangsiapa memahami kata wajh Allah, yad ,  ain dan istiwa  sebagaimana makna yang selama ini diketahui (wajah Allah,  tangan, mata,  bertempat),  ia kafir secara pasti.”

        Perhatikan pula peringatan yang disampaikan Imam Sayyidina Ali ra

        Sayyidina Ali Ibn Abi Thalib ra  berkata : “Sebagian golongan dari umat Islam ini ketika kiamat telah dekat akan kembali menjadi orang-orang kafir.“
        Seseorang bertanya kepadanya : “Wahai Amirul Mukminin apakah sebab kekufuran mereka? Adakah karena membuat ajaran baru atau karena pengingkaran?”
        Sayyidina Ali Ibn Abi Thalib ra menjawab : “Mereka  menjadi kafir  karena pengingkaran. Mereka mengingkari Pencipta mereka  (Allah Subhanahu  wa ta’ala) dan mensifati-Nya dengan sifat-sifat benda  dan  anggota-anggota badan.” (Imam Ibn Al-Mu’allim Al-Qurasyi (w. 725 H) dalam Kitab Najm Al-Muhtadi Wa Rajm Al-Mu’tadi)

        Ulama  Ibnu Taimiyyah, ulama Ibnu Qoyyim Al Jauziah (pengikut Ibnu Taimiyyah),  ulama Muhammad bin Abdul Wahhab (pengikut Ibnu Taimyyah) , juga  termasuk ulama Al Albani (pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab adalah  termasuk ulama- ulama yang  tidak lagi mentaati pemimpin ijtihad kaum  muslim (imam mujtahid / imam  mazhab),  mereka lebih bersandar kepada  akal pikiran mereka  sendiri.

        Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa menguraikan Al Qur’an dengan akal pikirannya sendiri dan benar, maka sesungguhnya dia telah berbuat kesalahan”. (HR. Ahmad)

        Dari Ibnu Abbas ra Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda…”barangsiapa yg berkata mengenai Al-Qur’an tanpa ilmu maka ia menyediakan tempatnya sendiri di dalam neraka” (HR.Tirmidzi)

        Imam Syafi’i ~rahimahullah mengatakan “tiada ilmu tanpa sanad”.
        Al-Hafidh Imam Attsauri ~rahimullah mengatakan “Penuntut ilmu tanpa sanad adalah bagaikan orang yang ingin naik ke atap rumah tanpa tangga”

        Bahkan Al-Imam Abu Yazid Al-Bustamiy , quddisa sirruh (Makna tafsir QS.Al-Kahfi 60) ; “Barangsiapa tidak memiliki susunan guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu lagi niscaya gurunya syetan” Tafsir Ruhul-Bayan Juz 5 hal. 203

        Mereka  yang tidak mentaati pemimpin ijtihad kaum muslim (imam  mujtahid / imam  mazhab) pada hakikatnya tidak mentaati Sunnah Rasulullah  bahwa jika  terjadi perselisihan karena perbedaan pemahaman maka  kita di-sunnah-kan   berpegang kepada kesepakatan jumhur ulama

        Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda
        “Sesungguhnya  umatku tidak akan bersepakat pada kesesatan. Oleh karena  itu, apabila  kalian melihat terjadi perselisihan maka ikutilah as-sawad  al a’zham  (kesepakatan jumhur ulama).” (HR. Ibnu Majah, Abdullah bin  Hamid, at  Tabrani, al Lalika’i, Abu Nu’aim. Menurut Al Hafidz As Suyuthi  dalam  Jamius Shoghir, ini adalah hadits Shohih)

        Rasulullah  shallallahu alaihi wasallam bersabda “Barangsiapa  menyendiri  (memisahkan diri), maka dia akan menyendiri (masuk) ke dalam  neraka”

        Atsar  Umar bin Khaththab R.A, berkata: “Hendaknya kalian berpegang  teguh  kepada jama’ah dan tidak bercerai berai. Sesungguhnya syaithan  bersama  satu orang, dan jarang bersama dengan dua orang. Barangsiapa   menghendaki kenikmatan hidup di sorga, maka hendaknya dia berpegang   teguh kepada jama’ah”.

        Mereka yang memisahkan diri dari  pendapat / pemahaman jumhur ulama  adalah yang dikatakan oleh  Rasulullah sebagai “orang-orang muda”, mereka  bagaikan  “meluncurnya  anak panah dari busurnya”. Silahkan baca uraian  kami pada  http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/15/orang-orang-muda/

        Oleh  karenanya setelah kita melihat terjadi perselisihan dikarenakan  perbedaan pemahaman maka kita sebaiknya kembali berpegang kepada  pemahaman pemimpin itjihad kaum muslim (Imam Mujtahid / Imam Mazhab)

        Sejak   dahulu kala sampai saat ini, jumhur ulama telah sepakat bahwa  pemahaman  terbaik terhadap Al Qur’an dan Hadits dan pemahaman terbaik  terhadap  perkataan Salafush Sholeh adalah Imam Mazhab yang empat.  Dahulu memang ada imam-imam mazhab yang lain, namun pendapat/pemahaman  mereka tidak dipakai lagi oleh kaum muslim

        Memang Imam  Mazhab yang empat tidak maksum namun mereka tetapi mereka itu mahfuzh  (dipelihara) dengan pemeliharaan Allah  subhanahu wa ta’ala  terhadap  orang-orang sholeh.  Mereka disegerakan  teguranNya jika mereka berbuat  kesalahan dan merekapun mempunyai kesempatan  bertaubat  atas  kesalahannya. Sungguh sebuah petunjuk ketidak-dekatan denganNya  jika  berbuat kesalahan namun tidak disegerakan teguran dariNya. Sebuah   malapetaka besar jika seseorang mengetahui kesalahannya ketika di   akhirat kelak karena pada hakikatnya mereka tidak lagi diberi kesempatan
        untuk  bertaubat  atas kesalahannya.

        Berikut contoh pemeliharaan Allah  subhanahu wa ta’ala  terhadap orang-orang sholeh

        Imam asy-Syafi’i berkata:
        شكوت إلى وكيع سوء حفظي
        فأرشدني إلى ترك المعاصي
        وأخبرني بأن العلم نور
        ونور الله لا يؤتى لعاصى”
        شَكَوْتُ إِلىَ وَكِيْعٍ سُوْءَ حِفْظِيْ # فَأَرْشَدَنِيْ إِلىَ تَرْكِ الْمَعَاصِي
        وَأَخْــبَرَنِيْ بِأَنَّ الْعِلْـمَ نُوْرٌ # وَنُوْرُ اللهِ لَا يُـؤْتىَ لِعَاصِى

        Saya mengadu kepada Waqi’ (guru beliau) buruknya hafalanku,
        maka dia menasihatiku agar meninggalkan maksiat.
        Dan ia mengabarkan kepadaku bahwa ilmu adalah cahaya,
        dan cahaya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak diberikan kepada pelaku maksiat.

        Setelah  Imam asy Syafi’i merunut (mencari tahu) kenapa beliau lupa hafalan  Al-Qur’an (hafalan Al-Qur`ânnya terbata-bata) dikarenakan beliau tanpa  sengaja melihat betis seorang wanita bukan muhrim yang tersingkap oleh  angin dalam perjalanan beliau ke tempat gurunya

        ‘Abdullâh  bin Al-Mubarak meriwayatkan dari adh-Dhahak bin Muzahim, bahwasanya dia  berkata;”Tidak seorangpun yang mempelajari Al-Qur`ân kemudian dia lupa,  melainkan karena dosa yang telah dikerjakannya. Karena Allah berfirman  Subhanahu wa Ta’ala : وَمَآأَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ  أَيْدِيكُمْ  (Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah  disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri) –Qs asy-Syûra/42 ayat 30- .  Sungguh, lupa terhadap Al-Qur`ân merupakan musibah yang paling besar *  (. Fadha`ilul-Qur`ân, karya Ibnu Katsir, hlm. 147)

        Itulah  contoh mereka yang disayang oleh Allah ta’ala dan diberi kesempatan  untuk menyadari kesalahan mereka ketika masih di dunia.

        Oleh  karenanyalah sebaiknya jangan mengikuti pemahaman ulama yang banyak  kesalahannya yang dibuktikan dengan banyak ulama lain yang menyanggah  atau membantah pendapat ulama tersebut. Jangan beralasan dengan “ambil  yang baik dan buang yang buruk” karenapada hakikatnya mereka tidak dalam  pemeliharaan Allah  subhanahu wa ta’ala  terhadap orang-orang sholeh.  Ikutilah pemahaman pemimpin ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid / Imam  Mazhab) dan penjelasan para pengikut Imam Mazhab sambil merujuk darimana  mereka mengambil yaitu Al  Quran dan as Sunnah

        Wassalam

        Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830

        Dalil Maulid Nabi

        Kiranya tulisan ini sangat amat cukup buat kawan2 ahlussunnah waljamaah yang sejalan dgn saya,untuk menambah dan memperkuat keyakinan agar selalu dan terus menerus mengerjakan MAULID NABI tiap hari,minggu,bulan atau tahun,oke kawan2 ku,
        إن الله وملئكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما

        … قال الإمام المفتي في مكة المكرمة العالم العلامة شهاب الدين أحمد بن حجر الهيتمي الشافعي رحمه الله تعالى
        Berkata imam mujtahid fatwa pada masa nya,yg sangat amat alim dan punya sanad,syihabuddin ahmad bin hajar alhaitami bermazhab syafi’i
        Lahir 899 hijriah – wafat 974 hijriah

        في كتابه النعمة الكبرى على العالم في مولد سيد ولد آدم
        Dalam kitab beliau ni’matul kubra

        فصل في بيان فضل مولد النبي صلى الله عليه وسلم
        Ini fasal pada menjelaskan kelebihan maulid nabi

        وبسندي المتصل إليه قال أبو بكر الصديق رضي الله عنه : من أنفق درهما على قراءة مولد النبي صلى الله عليه وسلم كان رفيقي في الجنة
        Abu bakar shiddiq berkata : barangsiapa menafkahkan uangnya untk membca maulid nabi,maka ia menjadi kawanku dalam surga

        وقال عمر رضي الله عنه : من عظم مولد النبي صلى الله عليه وسلم فقد أحيا الإسلام
        Umar berkata : barangsiapa membesarkan maulid nabi maka ia telah menghidupkan islam

        وقال عثمان رضي الله عنه : من أنفق درهما على قراءة مولد النبي صلى الله عليه وسلم  فكأنما شهد غزوة بدر وحنين
        Utsman berkata : barangsiapa menafkahkan uangnya untuk membc maulid nabi,maka seolah2 ia ikut perang badar dan hunain

        وقال علي رضي الله عنه : من عظم مولد النبي صلى الله عليه وسلم وكان سببا لقراءته لا يخرج من الدنيا إلا بالإيمان ويدخل الجنة بغير حساب
        Ali berkata : barangsiapa membesarkan maulid nabi,dan adalah ia sebab membc maulid itu td,maka tdk keluar ia dr dunia melainkan dgn iman dan masuk surga tanpa hisab

        وقال الحسن البصري رضي الله عنه : وددت لو كان لي مثل جبل أحد ذهبا فأنفقته على قراءة مولد النبي صلى الله عليه وسلم
        Hasan bashri berkata : aku mencita2 jika aku punya emas sbesar gunung uhud,maka aku nafkahkan buat pembcaan maulid nabi

        وقال جنيد البغدادي قدس الله سره : من حضر مولد النبي صلى الله عليه وسلم  وعظم قدره فقد فاز بالإيمان
        Junaid albagdadi berkata : barangsiapa menghadiri maulid nabi dan membesarkan nya,maka ia beruntung
        وقال الإمام الشافعي رحمه الله : من جمع لمولد النبي صلى الله عليه وسلم إخوانا وهيأ طعاما وأخلى مكانا وعمل إحسانا وصار سببا لقراءته بعثه الله يوم القيامة مع الصادقين والشهداء والصالحين ويكون في جنات النعيم
        Imam syafi’i berkata : barang siapa mengumpulkan saudara2nya untuk membc maulid nabi,dan menyediakan makanan dan tempatnya,berbuat kebaikan dan ia ikhlas dalam membc maulid itu,maka Allah bangkitkan ia bersama para syuhada,sholihin dan masuk surga

        وقال الإمام جلال الدين السيوطي في كتابه شرح الشمائل : مامن بيت أو مسجد أو محلة قرئ فيه مولد النبي صلى الله عليه وسلم إلا حفت الملائكة ذلك البيت أو المسجد أو المحلة وصلت الملائكة على أهل ذلك المكان وعمهم الله تعالى بالرحمة والرضوان
        Imam jalaluddin sayuti berkata :tdk ada rumah,mesjid dan tempat2 yg dbc orang dsana maulid nabi,melainkan malaikat mendatangi rumah,atau msjd atau tmpt itu,dan mereka mendoakan orang2 yg dtmpt itu,dan Allah berikan rahmat dan keridoan nya kpd mereka2

        قال الإمام عبد الرحمن بن إسماعيل الشهير بأبي شامة شيخ النووي
        Berkata imam abdurrahman bin ismail yg dkenal dgn abu syamah beliau adalah guru imam nawawi (abu syamah ini adalah ulama ahli alquran,takwil,tafsir,ushul,dan paling ahli qiraat pada masanya,sehingga pd masa beliau hdp,beliaulah yg jd tujuan orang2 untk pengembalian hukum,krn sangat alim nya beliau,dan pd masa itu beliau lah yg plng alim,dalam ktb itqon karangan imam sayuthi,kbnyakan qaul2 dr mslah ilmu ushul tafsir,pengambilan beliau dr imam abu syamah ini,dan imam abu syamah ini jg pensyarah matan syatibiyah pd qiraat)
        : ومن أحسن ما ابتدع في زماننا
        Sebagian dari sebagus2 yg dbid’ah kan pada zaman skrg
        ما يفعل كل عام في اليوم الموافق ليوم مولده صلى الله عليه وسلم
        Yaitu peringatan yg dkerjakan tiap tahun bertepatan pd hari lahirnya rasul shollallahu alaih wasallam
        من الصدقة والمعروف وإظهار الزينة والسرور
        Spt bershodaqah,berbuat baik,dan menampakkan kebagusan dan kgembiraan
        فإن ذلك مع ما فيه من الإحسان إلى الفقراء
        Krn bhwsanya itu dsertai apa saja yg ada ddalam nya dari berbuat baik kpd faqir miskin

        مشعر بمحبة النبي صلى الله عليه وسلم وتعظيمه وجلالته في قلب فاعل ذلك وشكر لله تعالى على ما من به من إيجاد رسول الله الذي أرسله رحمة للعالمين
        Merasakan dalam hati yg mengerjakannya itu dgn mencintai rasul dan membesarkanya dan memuliakan nya,dan jg mensyukuri atas pemberian nya yg bermanfaat spt ADA NYA RASUL YANG IA UTUS SEBAGAI RAHMATAN LIL ‘ALAMIN

    Powered by WordPress | Visit www.iFreeCellPhones.com for Free Cell Phones. | Thanks to Palm Pre Blog, MMORPG and Fat burning furnace review